Dalam menjalani kehidupan sering adanya peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan sehingga membuat kita tidak semangat dalam menjalani hari.
Dengan demikian, mendorong kita untuk bercerita dengan orang disekitar kita sebagai bentuk penyaluran emosi negatif. Ketika kita dalam posisi sebagai pendengar sering kali secara spontan untuk memberikan kata-kata semangat dengan harapan agar teman kita dapat segera bangkit dari keterpurukan atau menyuruhnya untuk selalu berpikir positif dengan mengambil hikmah dari peristiwa yang telah menimpanya.
Hal tersebut, dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pembicara mengenai peristiwa yang menimpanya. Akan tetapi, pernahkah kita ketahui bahwa pemberian respon positif yang berlebihan dapat berakibat pada toxic positivity?
Toxic positivity adalah sebuah tindakan menolak atau menyangkal stres, negativitas, atau pengalaman negatif lainnya yang ada (Sokal, Trudel, & Babb, 2020). Toxic positivity pun dapat menjadi dorongan dalam merespon berbagai peristiwa negatif dengan selalu dipaksakan untuk melihat sisi positifnya.
Akibatnya, dari dorongan-dorongan untuk selalu melihat sisi positif dapat menjadi bentuk pengalihan dari emosi negatif. Adapun emosi negatif, seperti sedih, marah, benci, dan kecewa. Perlu diketahui bahwa melalui pengalihan dari emosi negatif lah yang menjadikannya kata-kata yang positif menjadi toxic.
Emosi negatif sudah seharusnya dapat diterima oleh diri individu sendiri sebagai fakta bahwa manusia memiliki kekurangan sehingga dapat memiliki dan merasakan emosi-emosi negatif tersebut. Toxic positivity pun tidak hanya terjadi pada orang lain, tetapi juga dapat terjadi pada diri sendiri.

