Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Teori Fungsionalistik, Belajar dari Pengalaman untuk Tidak Membenci Kegagalan

Home > Artikel Baru > Teori Fungsionalistik, Belajar dari Pengalaman untuk Tidak Membenci Kegagalan

Teori Fungsionalistik, Belajar dari Pengalaman untuk Tidak Membenci Kegagalan

Posted on 1 October 2022 by admin
0

Dalam psikologi perkembangan dikenal teori fungsionalistik. Teori fungsionalistik merupakan sebuah teori belajar yang menekankan pada stimulasi dan refleks. Tokoh dari teori fungsionalistik adalah Thorndike dan Skiner.

Dalam teori ini hasil dari belajar lebih ditekankan kepada perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.  Dimana biasanya tingkah laku manusia dipengaruhi oleh hal-hal yang biasa dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi pola kebiasaan dan terbawa terus terhadap perilakunya di dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut teori yang dipelopori oleh Thorndike dan Skiner ini, barang siapa yang menguasai stimulus dan respon sebanyak-banyaknya maka dia dikategorikan sebagai orang yang pandai dan berhasil didalam belajarnya. Selain itu perlu diingat bahwasannya pembentukan antara stimulus dan respon tentunya harus dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang.

Berbicara mengenai stimulus dan respon, stimulus adalah apa saja yang dapat merangsang terjadinya belajar, baik itu pikiran atau perasaan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan indra manusia. Sedangkan respon sendiri yaitu reaksi dari stimulus yang diberikan, dapat berupa pikiran atau perasaan dan juga gerak atau tindakan.

Dilain sisi, hubungan antara stimulu dan respon ini juga dapat terjadi melalui interaksi yang terjadi di dalam lingkungan. Bahwasannya terkadang karena berada di dalam suatu lingkungan maka kita secara tidak langsung terbawa untuk mengamati lingkungan tersebut dan kemudian secara alami diri kita menyesuaikan tingkah laku kita dengan lingkungan tersebut. Maka dari situ dapat terlihat bahwa lingkungan mempengaruhi perubahan tingkah laku seseorang.

Sedangkan secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi atau sensory experience. Dimana pikiran dan perasaan adalah hasil dari perilaku dimasa lalu. Sehingga asumsi bahwasannya pengalaman adalah yang paling berpengaruh terhadap pembentukan perilaku.

Semakin sering suatu tingkah laku dilatih maka asosiasinya semakin kuat. Seperti halnya dengan hukum dari hubungan antara stimulus dan respon itu sendiri cenderung diperkuat bila hal tersebut menyenangkan dan cenderung melemah bila hal tersebut tidak memuaskan.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwasannya perilaku dari manusia didorong oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan, karena pada dasarnya manusia menyukai hal-hal yang membuat kalbunya bahagia.

Fungsi pikiran sendiri adalah untuk menjiplak struktur dari pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis serta dipilah, sehingga hasil dari proses berpikir ditentukan oleh bagaimana karakteristik struktur pengetahuan yang diberikan atau didapatkan.

Sedangkan ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan dalam belajar dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas untuk diberikan hadiah.

Akibat dari kedua hal tersebut adalah timbulnya dogma yang mengakar bahwasannya jikalau nilai atau hasil dari belajar atau evaluasinya jelek, maka masa depannya pun dianggap suram atau gagal, dan harus dihukum. Padahal kita tidak ada yang tau bagaimana masa depan. Bisa saja karena belajar dari pengalaman pada akhirnya bisa mencapai kejayaan.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds