Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Stop Bullying: Body Shaming

Home > Artikel Baru > Stop Bullying: Body Shaming

Stop Bullying: Body Shaming

Posted on 23 August 2022 by admin
0

Istilah body shaming pasti sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Dari orang dewasa sampai mahasiswa dan bahkan anak-anak pun sangat mengenal  istilah ini. Dan kebanyakan orang pasti tahu bahwa ini merupakan istilah yang bermakna negatif. Lalu, sebenarnya body shaming itu apa sih? Apa sajakah dampak yang akan dirasakan oleh korban? Dan apakah body shaming itu bisa diatasi?

Body shaming adalah tindakan mencela dan mempermalukan seseorang dengan membuat ejekan atau perundungan tentang penampilan fisik seseorang. Mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, berat badan, wajah, model rambut, dan lainnya yang berhubungan dengan fisik seseorang. Body shaming tidak hanya dapat dilakukan orang-orang dekat kita, akan tetapi dapat dilakukan juga melalui komentar negatif yang diberikan pelaku atau netizen melalui media sosial.

Tindakan body shaming ini mungkin dianggap sebagai hal yang wajar dan sering kali dijadikan bahan candaan bagi sebagian orang. Namun, ada juga yang memang ditujukan untuk menghina atau merudung seseorang yang fisiknya tidak memenuhi standar kecantikan. Tanpa memikirkan dampak pada korbannya, pelaku, sengaja ataupu tidak, mengeluarkan pernyataan-pernyataan kepada korban yang pastinya akan menyinggung dan menyakiti hati korban, misalnya “Kok kamu tambah gendut sih”, “Muka kamu menggelap ya sekarang”, “Makan ga sih kamu itu, kok ga tinggi-tinggi”, “Kamu kurus banget, kekurangan gizi ni.” dan sebagainya.

Pernyaaan-pernyataan seperti itu sering kali terdengar terutama di kalangan sekolah yang memang antara anak satu dengan yang lainnya sering berinteraksi dan bertemu hampir setiap harinya. Ada satu kasus, di sebuah Sekolah Menengah Pertama, wanita berinisial K. Dia sering mendapatkan candaan dari temannya mengenai bentuk tubuh. Walaupun itu untuk candaan, hati dari si K pasti merasa sakit meskipun dia tetap diam saja saat menerima kritikan dari temannya tersebut. Karena, pada kenyataannya tindakan body shaming termasuk salah satu bentuk bullying yang dapat mempengaruhi kesehatan mental hingga depresi berat kepada korbannya.

Sampai saat ini, body shaming masih marak di kalangan persekolahan maupun di lingkungan masyarakat. Kenapa itu dapat terjadi? Itu dikarenakan pola pikir masyarakat yang masih terikat dengan standar kecantikan tradisional berupa bentuk tubuh yang ideal, berkulit putih, wajah tirus, hingga tubuh yang tinggi serta jenjang. Bentuk tubuh yang perfect akan mengangkat citra dan standar ideal yang telah tertanam di masyarakat tentang kecantikan di desa maupun perkotaan.

Pada seseorang yang tidak dapat menerima perlakuan body shaming pasti akan memandang dirinya sendiri dengan gagal dalam urusan fisik tubuh. Itu akan menimbulkan rasa malu, kecemasan, serta cenderung merasa ada yang salah dalam dirinya. Kepercayaan diri pun akan menurun, terutama pada seorang wanita karena kita tahu bahwa wanita lebih memperhatikan penampilan fisiknya dibandingkan seorang laki-laki.

Selain itu, dampak dari body shaming lainnya adalah mengarah pada psikologis dan kesehatan mental pada korbannya. Seseorang akan membenci tubuhnya sendiri dan itu akan membuat kepercayaan dirinya hilang saat tampil di depan umum. Dan yang paling parah, diskriminasi seperti itu akan membuat korban untuk menyakiti diri sendiri serta meningkatkan depresi hingga memicu pikiran untuk melakukan bunuh diri. Kalau sudah seperti itu, siapa yang akan disalahkan?

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds