Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Skizofrenia, Hidup dengan Teman Khayalan?

Home > Artikel Baru > Skizofrenia, Hidup dengan Teman Khayalan?

Skizofrenia, Hidup dengan Teman Khayalan?

Posted on 8 November 20229 November 2022 by admin
0

Beberapa waktu yang lalu, saya berbelanja di minimarket dekat tempat kerja saya. Saya memperhatikan seorang wanita paru baya duduk santai di depan minimarket tersebut. Dia terlihat sedang berbicara sambil sesekali tertawa cekikian. Saya berpikir, mungkin wanita itu sedang telponan dengan seseorang menggunakan earphone.

Seminggu kemudian saya kembali melihat wanita tersebut, masih dengan aktivitas yang sama, berbicara sambil sesekali tertawa. Saya memperhatikan penampilannya seperti tidak terawat, memakai pakaian lusuh dan tidak menggunakan masker.  Setelah selesai berbelanja, saya mendekat dan duduk di sebelah wanita tersebut. Saya melirik telinganya, tidak ada earphone atau sejenisnya. Dia juga tidak membawa handphone. Diam-diam saya mendengar pembicaraannya, ternyata dia berbicara sendiri dan pembicaraannya juga tanpa makna, tidak berhubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Saya pun basa-basi menyapanya.

“Halo mbak, ngapain?” tanya saya.

“Iniloh aku lagi cerita sama temenku.” Jawabnya.

“Mana temennya?”

“Itu loh temenku, daritadi ngajak cerita” (sambil menunjuk ke depan, tetapi tidak ada siapa pun disitu).

Akhirnya saya mencari tahu tentang wanita tersebut lewat tukang parkir depan minimarket. Wanita tersebut bernama Happy dan kebetulan alamatnya masih berada di wilayah kerja saya. Saya menghubungi keluarganya dan mendapat informasi bahwa dia memang sudah lama “gila” karena masalah rumah tangga. Keluarga menceritakan bahwa setiap pagi dia pamit dari rumah dengan alasan berangkat kerja dan pulang ke rumah pada sore hari. Tapi kenyataannya dia tidak punya pekerjaan, hanya berkeliling kampung atau nongkrong di depan beberapa minimarket dekat rumah. Tetangga juga mengatakan bahwa dia sering terlihat seperti sedang berbicara di telpon, tangan diletakkan di kuping, sambil berjalan mondar-mandir.

“Kalo diajak ngobrol, kadang nyambung kadang enggak, tapi lebih banyak gak nyambungnya. Tapi dia gak ngganggu orang lain.”

Ternyata keluarga dan tertangga sudah lama mengetahui kondisi Happy tetapi tidak berpikir untuk membawa Happy periksa karena menurut mereka tidak ada masalah karena kondisi Happy tidak membahayakan orang sekitar. Oleh karena itu, saya berusaha memberikan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi Happy dan perlunya pengobatan untuk mengurangi gejala yang muncul. Saya juga meyakinkan keluarga untuk tidak khawatir mengenai biaya karena untuk pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ditanggung oleh pemerintah. Jadi dari pihak puskesmas membantu pengajuan BPJS PBI untuk Happy, membuatkan surat rujukan dan selanjutnya keluarga membawa Happy untuk berobat ke poli kesehatan jiwa RS.

Apa itu Skizofrenia?

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani schizein yang berarti terpisah atau pecah dan phrenia yang artinya jiwa, jadi skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan yang ditandai dengan adanya distorsi pada pikiran, emosi, dan perilaku (Fauziah dan Widuri, 2005).  Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk membedakan antara kenyataan dengan apa yang hanya ada di dalam pikiran dan perasaannya sendiri sehingga penderita menjadi terganggu dan terhambat dalam melakukan aktivitas secara normal dan berinteraksi dengan orang lain.

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds