Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Skeptis terhadap Ucapan ”Aku Harus Jadi yang Terbaik”

Home > Artikel Baru > Skeptis terhadap Ucapan ”Aku Harus Jadi yang Terbaik”

Skeptis terhadap Ucapan ”Aku Harus Jadi yang Terbaik”

Posted on 2 August 2022 by admin
0

Pernahkah anda mendengar istilah ”skeptis”?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skeptis memiliki arti kurang percaya atau ragu-ragu terhadap suatu hal. Dari ucapan ”Aku harus jadi yang terbaik” menurut pandangan saya, bisa memiliki arti yang berbeda.

Dalam bayangan saya, ada dua versi makna dari ucapan tersebut. Versi pertama adalah ”Aku harus jadi yang terbaik dibandingkan siapapun” dan versi kedua adalah ”Aku harus jadi yang terbaik dibandingkan diriku sendiri sebelumnya”.

Dua versi tersebut sebetulnya tidak ada yang salah. Hal tersebut sah-sah saja. Namun, saya akui saya sangat skeptis dengan ucapan ”Aku harus jadi yang terbaik dibandingkan siapapun”. Mengapa saya berpikir seperti itu?

Saya akan coba ulas melalui komparasi dari dua kasus fiksi yang saya bayangkan.

Saya penasaran, jika ada dua versi seperti ini, kira-kira apa yang akan terjadi ya?

1. Versi Pertama

Kita sebut saja dengan Alia. Alia adalah seorang anak berprestasi yang selalu mendapatkan nilai di atas 95 di semua mata pelajaran. Bahkan, Alia selalu mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Alia memiliki prinsip bahwa dia harus menjadi yang terbaik dibandingkan siapapun yang ada di sekolahnya.

Apakah itu merupakan hal yang baik?

Tentu saja. Tidak ada salahnya jika Alia ingin berjuang untuk menjadi yang terbaik dibandingkan dengan teman-temannya.

Namun, pada suatu hari Alia untuk pertama kalinya mendapatkan nilai 80 untuk mata pelajaran Biologi. Tentunya Alia sangat shock dan kecewa pada dirinya sendiri. Sedangkan, ada seorang temannya yang mendapatkan nilai 90 untuk pelajaran Biologi tersebut.

Alia merasa kenapa hal tersebut bisa terjadi, padahal selama ini tidak ada satupun temannya yang berhasil mengalahkan dirinya. Alia pun merasa kecewa dan gagal terhadap dirinya sendiri.

Sebetulnya jika saya berandai-andai, ucapan ”Aku harus jadi yang terbaik dibandingkan siapapun” memiliki cakupan yang sangat luas. Jika pada kasus Alia, dia yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya masih merupakan cakupan yang sangat kecil. Sedangkan, manusia akan memiliki hasrat untuk selalu tidak puas akan apa yang sudah mereka capai.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) per Bulan Juli 2022, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 275 juta 774 ribu orang. Di sisi lain berdasarkan TiNewss.com, jumlah pengguna Instagram di Indonesia pada awal tahun 2022 mencapai 99,1 juta orang. Jumlah ini mencapai sebesar 36% dari total penduduk Indonesia.

Jumlah yang sangat fantastis bukan?

Imajinasi saya berkata, bisa saja di masa depan Alia akan meningkatkan targetnya bukan hanya menjadi lebih baik dibandingkan siapapun di sekolahnya saja, namun bisa saja di kantornya nanti, atau bahkan terhadap orang-orang yang tidak dia kenal, yang hanya dia lihat wara-wiri melalui konten instagramnya.

Dengan kecanggihan teknologi yang ada saat ini, hal tersebut akan sangat memungkinkan kita untuk membandingkan diri kita untuk terus lebih baik terhadap siapapun yang kita lihat, bahkan melalui handphone kita sendiri. Orang yang bahkan tidak kita kenal, kita tidak tahu jati diri mereka sebenarnya, ataupun bahkan kita tidak tahu apakah sesuatu yang mereka perlihatkan itu adalah sesungguhnya dari diri mereka, saya menyebutnya sebagai kamuflase. Jika hal tersebut terjadi, manusia cenderung akan memaksimalkan ego dan keambisiusan dalam versi negatif dan menjadi judgemental terhadap diri sendiri.  Saya rasa tersebut tidak baik dan hanya akan menyakiti diri sendiri.

2. Versi Kedua

Kita sebut saja sebagai Dion. Dion adalah teman Alia yang mendapatkan nilai 90 untuk pelajaran Biologi. Nilai 90 merupakan nilai tertinggi yang diperoleh Dion dalam mata pelajaran Biologi. Sebelumnya, Dion selalu merasa bahwa dia sangat payah dalam pelajaran tersebut. Dia selalu saja mendapatkan remedial saat ujian. Namun, Dion tidak menyerah, belajar dengan lebih keras, dan selalu bergumam ”Aku harus jadi yang terbaik dibandingkan diriku sendiri sebelumnya”.

Dion berusaha untuk tidak remedial lagi di pelajaran tersebut. Dan ternyata, Dion berhasil mendapatkan nilai 90 dan tidak harus melalui remedial lagi atas hasil kerja kerasnya tersebut. Bahkan, Dion mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran tersebut.

Sungguh hasil yang tidak disangka-sangka.

Karena Dion menjadikan patokan untuk menjadikan segala daya upayanya untuk lebih baik dari versi dirinya sebelumnya, dia bahkan tidak sibuk untuk memikirkan oranglain, tidak seperti Alia. Dia hanya fokus terhadap dirinya sendiri, dan berusaha untuk menjadi lebih baik dibandingkan dirinya, perlahan, sedikit demi sedikit, dan akhirnya tercapai.

Di kehidupan, tidak semua hal bisa kita kontrol. Kita tidak diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk selalu bisa mengontrol dan mengendalikan apa yang dilakukan orang lain. Yang hanya bisa kita kontrol hanyalah diri kita sendiri.

Jadi, fokuslah pada diri kita saja. 

 

 

 

 

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds