Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Senjata Makan Tuan Psikologi: Silent Treatment

Home > Artikel Baru > Senjata Makan Tuan Psikologi: Silent Treatment

Senjata Makan Tuan Psikologi: Silent Treatment

Posted on 14 April 2022 by admin
0

Pernahkah kita kesal dengan orang di sekitar kita dan memutuskan untuk mendiamkan mereka? Jika jawabannya pernah, alangkah baiknya jika kita mengenal sikap yang dinamakan silent treatment.

Psikologi memperkenalkan silent treatment sebagai suatu sikap di mana kita mengabaikan atau bahkan menganggap orang yang bermasalah dengan kita itu tidak ada. Saking dendam dan kesalnya, sikap ini bisa berlarut sampai hitungan hari bahkan bulan. Silent treatment biasanya merupakan tanda bahwa kita ingin menghindari konflik dan tidak tahu cara menyelesaikan masalah atau mengungkapkan perasaan. Di sisi lain, kita juga menggunakan silent treatment sebagai hukuman bagi sasaran kita agar orang tersebut merasa bersalah.

Jika dibiarkan, efeknya bagi hubungan (baik dengan pasangan, keluarga ataupun teman) sangatlah buruk. Dilansir dari halodoc.com, sikap ini dapat membuat orang yang terkena silent treatment menjadi rendah diri dan merasa diabaikan dikarenakan lawan bicaranya enggan menyelesaikan konflik. Ini kelak akan menjadi bom waktu bagi si lawan bicara karena ia merasa konfliknya belum selesai, sedangkan orang yang melakukan silent treatment akan menganggap masalahnya selesai begitu saja.

Terus, kalau kita sebal sama orang itu dan kita memang lagi gak mau ngomong dengan dia, gimana dong?

Psikolog mengatakan kita bisa melancarkan ‘gencatan senjata’, misalnya dengan meminta waktu kepada orang lain untuk menenangkan diri dalam jangka waktu tertentu dan menjanjikan rekonsiliasi hubungan, bukan mendiamkan dan mengajak berbicara sesuka hati kita saja, bahkan berbicara seolah tidak terjadi apa-apa.

 

Saya aktif di platform Quora, dan saya banyak menemukan orang yang curhat karena terkena silent treatment, kebanyakan oleh pasangannya. Mereka yang menjadi sasaran silent treatment merasa bingung, sedih, tidak berharga sehingga mereka terpaksa bertanya apa solusinya kepada orang-orang asing di Quora. Biasanya mereka sudah mencoba mengajak damai, tapi lawan bicaranya menutup mulut. Hal ini menurut saya sudah gawat, karena saking putus asanya, orang jadi bertanya kepada orang asing dibandingkan kepada pasangannya. Ya wong didiamkan kok, rasanya percuma saja bicara panjang lebar.

Masih bagus jika hanya berkeluh kesah di Quora. Ada yang nekat berselingkuh, serta meminta putus atau cerai dikarenakan permasalahan yang menumpuk dan partner tidak bisa diajak diskusi. Rugi bandar bukan? Hanya gara-gara sikap kita yang kurang dewasa, kita kehilangan orang yang berharga dari sekeliling kita. Masalah tidak selesai, hubungannya berantakan.

Untuk kita yang seringkali melancarkan aksi silent treatment, cobalah untuk legowo, belajar menerima kekurangan diri dan orang lain dan memulai diskusi dengan orang yang bermasalah dengan kita. Setiap hidup kita pasti ada masalah dan ada jalan keluarnya, kecuali jika kita diam-diam saja seperti ikan mati yang akhirnya hanyut terbawa arus. Ribut sedikit tidak apa, bahkan mungkin akan ada hubungan yang tidak membaik sepenuhnya, tetapi setidaknya ada penyelesaian dari permasalahan yang terjadi. Ada harga atas semua perbaikan.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds