Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Sebuah Refleksi Tentang Validasi Emosi

Home > Artikel Baru > Sebuah Refleksi Tentang Validasi Emosi

Sebuah Refleksi Tentang Validasi Emosi

Posted on 2 May 20239 May 2023 by admin
0

Belum lama ini, ibu jari tangan saya terluka yang menyebabkan kukunya harus diekstraksi atau diangkat. Sebelum prosedur esktraksi itu dilakukan, maka perlu diberi anestesi atau bius lokal untuk meminimalisir rasa sakit karena area itu menjadi kebal. Saat disuntik, rasanya sakit sekali, hingga saya memejamkan mata, tubuh saya menegang, dan tangan kanan yang tidak terluka ini meremas celana saya kuat-kuat. Perawat yang saat itu ikut mendampingi dokter yang menangani saya rupanya melihat respon saya itu. Saya bisa merasakan tangan perawat itu meraih tangan saya yang tidak terluka, lalu digenggamnya. Ia juga mengatakan, “Wah sepertinya rasanya sakit sekali ya ini. Tidak ada kok yang bilang ini tidak akan sakit.”

Ketika saya mendengar kata-kata perawat itu, tubuh saya melemas, dan akhirnya saya menangis, dan memegang tangan perawat itu kuat-kuat. Saat itu juga, saya merasa mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan proses ekstraksi kuku yang tentu terasa sangat sakit itu. Muncul juga perasaan lega bahwa perasaan saya divalidasi, apa yang saya rasakan dipahami oleh perawat itu. Perawat itu tidak menghakimi saya yang menangis tersedu-sedu saat disuntik dan diambil kukunya, ia mengizinkan saya untuk merasakan emosi takut dan kesakitan yang saya alami saat itu. Kalimat yang diucapkan dan respon perilaku perawat itu disebut sebagai validasi emosi. Validasi emosi, terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar bagi orang yang mendapatkannya.

Saya sering mendapatkan pertanyaan tentang respon apa yang bisa diberikan jika ada orang yang sedang bercerita. Selain mendengar aktif, hal lain yang bisa dilakukan yaitu memberikan validasi terhadap emosi yang orang itu rasakan. Validasi emosi ini merupakan sebuah proses untuk mempelajari, memahami, dan mengekspresikan penerimaan terhadap pengalaman emosional seseorang (Salters-Pedneault, 2021). Contoh kalimat-kalimat validasi yaitu :

Saya bisa memahami kalau kamu merasa marah atas apa yang terjadi pada dirimu.
Sepertinya pengalaman itu benar-benar menyakitkan untukmu ya.
Wah, dirimu terlihat senang ya!
Emosi yang kamu rasakan itu valid kok.
Iya, kamu boleh merasakan takut pada situasi seperti itu.
Validasi emosi ini memiliki berbagai manfaat. Tidak hanya dapat membuat seseorang merasa didukung seperti yang saya alami seperti cerita di atas, tetapi juga bisa membuat seseorang merasa dipahami dan diterima seada-adanya, sehingga ia pun juga belajar untuk menerima dirinya sendiri, termasuk berbagai emosi negatif yang mungkin dirasakan. Selain itu, adanya validasi emosi ini juga dapat membantu seseorang meregulasi emosinya, mengurangi intensitas emosi yang kuat dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Untuk mengakhiri refleksi ini, saya mau coba kembalikan kepada pengalaman kita masing-masing dengan emosi yang kita rasakan sendiri. Tidak jarang rasanya kita menolak atau mengabaikan emosi yang kita rasakan. Kita mengecilkan perasaan kita sendiri. “Ah, aku nggak boleh merasakan ini”, “Ih kok gini doang aku nangis sih”. Melakukan hal-hal itu pada diri kita sendiri, meski rasanya sejenak bisa “kabur” dari emosi negatif yang tidak menyenangkan, tetapi dampak jangka panjangnya yaitu akan membuat kita sulit percaya pada emosi kita sendiri, sehingga kita jadi kesulitan untuk mengelola berbagai perasaan yang kita rasakan.

Menolak emosi ini juga bisa memperparah masalah kesehatan mental yang dialami seseorang, semakin berjarak dengan emosi yang dirasakan, hingga tidak mengenali lagi apa yang sedang dialami. Oleh karena itu, refleksi ini dibuat sebagai pengingat bagi kita semua.

Mari kita bersama-sama belajar memvalidasi emosi. Cobalah kenali apa yang sedang dirimu rasakan, sadari apa yang menyebabkan dirimu merasakan perasaan itu, dan izinkan dirimu untuk merasakan itu. Kamu boleh merasakan berbagai emosi, dan apa yang kamu rasakan itu, valid.

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds