Zamrud Khatulistiwa tengah sibuk dilanda kasus pembunuhan berencana yang dieksekusi oleh se-komplotan preman berseragam coklat. Bintara muda itu, J, berlutut lemas di hadapan atasannya, memohon belas kasihan. Nahas, tercabutlah juga ruhnya itu atas kehendak sang perwira agung nan kuasa. “Yakali gak tembak?” Jangankan pejabat tinggi negara, dari majikan-majikan rumah tangga sampai para petinggi institusi swasta saja, bentuk kebengisan serupa kerap dilancarkan, lebih lagi terhadap insan-insan lemah yang tak berharta dan tak bertakhta
Masih juga menunggu episode berikutnya dari drama kematian seorang brigadir Polri, sudah bergelayangan saja wara-wara akan penembakan beberapa kucing oleh seorang brigjen TNI, per 18 Agustus 2022. Ngeri, tapi tak mengagetkan. Nyawa kucing tak seberapa, 17 tahun lalu, anak bungsu salah seorang penggede era Orde Baru terpicut amarah akan masalah sepele. Ditembak matilah olehnya seorang pelayan sebuah bar di Jakarta. Anehnya (eh tak aneh lagi ya), ia tinggal dibalik jeruji besi hanya sepemakan sirih. Tak selalu mafia militer, beberapa bulan lepas seorang pegawai restoran di NTT ditampar empat kali oleh seorang wakil rakyat berlatar-belakang sipil. Apa mungkin si pejabat ingin membirukan pipi pelayan itu agar menyerupai warna partainya? Hanya ia dan egonya yang tahu.
Tak mau kalah, aksi seorang bupati di Sumatera Utara bengisnya tak main-main; maniak dalam memelihara hewan langka eksotis, 656 spesies homo sapiens bahkan pernah pula menghuni kerangkeng di rumah sang pembesar kabupaten itu. Mereka ini juga subjek dari pencambukan selama setidaknya 10 tahun, slavery 2.0 pokoknya. Para anggota dinasti penguasa-penguasa ini juga tak kalah sering mengekspolitasi status mereka. Seorang istri perwira polisi bintang satu menggemparkan jagad internet disebabkan penamparan yang ia lakukan terhadap seorang pegawai imigrasi tahun 2017 yang lalu. Sebuah pemukulan dan ancaman penyekapan oleh seorang perwira kepolisian terhadap dua pegawai karaoke di Semarang pernah juga terjadi. Walau yang satu ini tak sempat bermetamorfosis menjadi sensasi nasional, mengingat kasusnya sendiri yang berskala mikro dan jabatannya yang sebatas di tingkat Polres, praktik kekerasan bercorak abuse of power dan penyelewengan hak istimewa seperti ini saking lumrahnya sudah seperti praktik yang dinormalisasi masyarakat republik tercinta.
Maka dari penjelasan di atas, korupsi terkualifikasi sebagai tindak psikopati. Selain golf, berlaku korup nyatanya juga hobi andalan para penguasa. Korupsi mengindikasikan kurangnya empati oleh para penggede negeri ini terhadap jutaan kawula yang menderita dibawah cengkeraman dominasi mereka; sekongkolan psikopat, baik yang berjas rapi dan bergaya klimis, maupun yang berseragam lengkap terkomplemen oleh wibawa militernya yang tegas.

