Buku Psikologi dan Agama ini ditulis oleh seorang psikolog terkenal yang namanya tidak asing lagi di dunia psikologi khususnya psikoanalisis yakni Carl Gustav Jung.
Jung yang terkenal akan konsep Arketipe-nya ini memang banyak membahas keterkaitan antara agama dan kebudayaan dengan psikologi. Karya-karyanya yang lain yakni Empat Arketipe, Diri yang Tak Ditemukan, dan The Spirit in Man, Art, and Literature.Di buku ini kita akan mengetahui bagaimana dogma agama beserta simbol-simbolnya berperan penting dalam pembentukan psikologis seseorang dan telah terpatri dalam ketidaksadaran dengan bentuk Arketipe.
Buku ini dibagi menjadi tiga bab yakni Otonomi Pikiran Bawah Sadar, Dogma dan Simbol-Simbol Alamiah, dan Sejarah dan Psikologi Simbol Alamiah.Pada bab ini Jung mengulas pengantar mengenai keterkaitan antara psikologi dan agama. Jung memakai pendekatan psikologis dan menjauhi berbagai kesimpulan yang bersifat metafisik dan filosofis. Sifat empirisme dari psikologinya ada pada pandangan fenomenologis yang artinya berdasarkan fenomena yang benar-benar terjadi.
Dalam analisisnya Jung menjelaskan bahwa konsep jiwa merupakan tubuh halus milik manusia dan merupakan realitas psikis yang ada. Gangguan neurosis dan bahkan biologis dapat ditelaah dari kesehatan jiwa ini. Seperti pengalaman Jung yang menyembuhkan seseorang yang demam tinggi dengan hanya berbicara dan melakukan pengakuan secara psikologis selama 12 menit.
Konsep jiwa memiliki sifat otonom dalam ketidaksadarannya yang berarti ada kekuasaan khusus yang terkadang tidak dapat dikuasai oleh kesadaran.
Neurosis banyak terjadi jika stimulus dari luar menyentuh kompleks yang menimbulkan ketakutan di ketidaksadaranya. Hal tersebut dibuktikan dengan kasus pasiennya yang percaya dia memiliki kanker padahal dia sangat pintar dan tahu bahwa itu hanya rekayasa pikirannya.
Dalam menentramkan konflik psikis tersebut sebelum ada psikologi, agama dan kebudayaan primitif dengan ritusnya berperan penting dengan memberikan peraturan seperti bersopan santun. Konflik psikis ini ditandai juga dengan mimpi yang merupakan tanda diekspresikannya ketidaksadaran.
Studi kasus yang lain terdapat pada pasien Jung yang lain dengan neurosis karena mimpi-mimpinya yang banyak mengandung unsur religius padahal ia seorang intelektual yang sudah meninggalkan semua bentuk religiusme yang dahulu diajarkan saat dia masih kecil.
Alam bawah sadarnya seolah memiliki kekuasaan yang menolak bentuk diri sadarnya yang lepas dari bentuk religiusitas.
Dogma dan Simbol-Simbol Alamiah
Seperti dalam kasus pasien Jung yang mendapatkan neurosis dan bermimpi tentang gereja dan hal-hal religius lainnya, ketidaksadaran memiliki pengaruh besar dalam kepribadian dan di luar kekuasaan kesadaran.
Pemikiran rasional nan modern pun tidak mampu untuk mengatasi dari menyeruaknya konflik psikis dari kebutuhan religi ini.
Dan Jung percaya bahwa terdapat kesamaan ketidaksadaran ini pada semua orang. Hal ini didasari kepada banyak pasiennya dan mimpi mereka yang sama-sama memiliki simbol identik.
Juga latarbelakang mereka yang seorang intelektual dan telah meninggalkan sepenuhnya kehidupan beragama.
Menurut Jung, agama merepresentasikan banyak gambaran alam bawah sadar dan emosi lebih baik daripada teori-teori ilmiah yang mengabaikan itu semua.

