Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Psikologi Behaviorisme Kaitannya dengan Masyarakat Sibernetik dan Kapitalisme

Home > Artikel Baru > Psikologi Behaviorisme Kaitannya dengan Masyarakat Sibernetik dan Kapitalisme

Psikologi Behaviorisme Kaitannya dengan Masyarakat Sibernetik dan Kapitalisme

Posted on 24 June 2022 by admin
0

Dunia psikologi memang tidak lepas dari dualisme faktor yang mempengaruhi perilaku, bawaan (nature) atau lingkungan (nurture) jadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Dua faktor tersebut juga mengilhami banyak mazhab psikologi seperti Behaviorisme yang mendasari teorinya dengan lingkungan. Setiap perilaku dapat dikendalikan asal lingkungan yang memberikan stimulus dapat dikendalikan. Dua konsep behaviorisme yang banyak digunakan yakni classical conditioning dari J.B. Watson dan operant conditioning menurut B.F. Skinner mempengaruhi sebagian besar keilmuan psikologi khususnya di Amerika Serikat.

Siapapun yang berhubungan dengan dunia psikologi pasti setuju dengan aliran behaviorisme karena pendekatannya yang lebih empiris dan mudah dipahami. Aliran-aliran lain seperti psikoanalisis atau humanis tampaknya kurang dalam pembuktian ilmiah dan juga masih dibayang-bayangi oleh pendekatan filsafat.

Sebenarnya konsep dari teori behaviorisme sangatlah sederhana, yakni dengan adanya stimulus dari lingkungan akan dihasilkan respons dari individu. Hukumnya pasti jika ada perilaku maka perilaku tersebut berasal dari stimulus dari luar.

Tidak ada suatu penyelewengan akan hal tersebut dan itu sudah dianggap hukum pakem atas perilaku. Melalui hal tersebutlah timbul optimisme bahwa segala perilaku dapat dikontrol asal dapat memodifikasi stimulus atau lingkungan.

Dalam sejarah perkembangan behaviorisme, kita tidak bisa melupakan sosok B.F. Skinner yang memperbarui konsep dari behaviorisme dari pengkondisian klasik (classical conditioning) yang terpaku pada rekayasa perilaku yang tidak terkondisikan kepada sebuah konsep baru yakni pengkondisian operan-nya (operant conditioning) yang dinilai lebih menitikberatkan pada unsur kognitif manusia. Dalam pengkondisian operannya dapat kita temui bahwa pelestarian dari perilaku tergantung pada pengambilan makna dari si subjek, jika dirasa itu buruk dan menyakitkan maka akan selalu dihindari dan jika dirasa baik dan menyenangkan akan terus diulang. Melalui konsepnya ini membuat para ilmuan yang ragu karena aspek kognitif manusia yang dapat “memilih” bisa dijelaskan. Namun sangat disayangkan bahwa semua itu masih dikatakan kurang memjelaskan secara memuaskan manusia dengan segala kehebatannya jika perilakunya tidak dapat diinisiasikan dari dalam dirinya.

Erich Fromm sebagai seorang psikoanalisis menyanggah teori behaviorisme dari Skinner. Dalam buku Akar Kekerasan (1973), Fromm merasa bahwa konsep behaviorisme hanya sebuah bukti dari prosedur laboratorium yang subjeknya berasal dari dunia sosial.

Seperti kita ketahui bahwa banyak para pendukung behaviorisme yang melakukan uji coba perilaku menggunakan subjek hewan dengan asumsi bahwa perilaku hewan sama dengan manusia dan begitu juga asal muasalnya.

Subjek seperti tikus yang dibawa ke laboratorium dan menerapkan beberapa posedur ilmiah tanpa harus mempertimbangkan bahwa interaksi sosial sangat berbeda jauh dengan penelitian yang ada di laboratorium terlebih memakai hewan sebagai subjeknya.

Memang secara saintifik dapat dipercayai bukti empiriknya namun secara realitas dimana berbagai interaksi sosial berkombinasi dan bersebrangan dalam membentuk perilaku amat sangat susah diterapkan. Jikalau perilaku memang dapat dikontrol dengan modifikasi lingkungan tersebut maka yang akan terjadi adalah terbentuknya masyarakat sibernetik yang mengandalkan ke praktisan dan juga minim kebebasan.

 

 

 

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds