Indonesia merupakan negara yang memiliki kondisi geografis yang rawan berbagai bencana alam mulai dari gempa bumi, banjir, letusan gunung yang belum lama ini terjadi di Semeru, Jawa Timur. Kondisi bencana yang terjadi di Indonesia tentunya dapat memberikan dampak luar biasa bukan hanya menyebabkan kerusakan secara fisik seperti kerusakan bangunan, infrastruktur, namun juga dapat mengakibatkan kepada kondisi psikologis para penyintasnya.
Selain bencana alam yang terjadi silih berganti dari tahun ke tahun, dua tahun belakangan ini yaitu dari tahun 2020 — 2021 saat ini kejadian bencana non alam pun melanda ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Bencana non alam yang terjadi adalah pandemic Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang pertama kali kasus ini diterjadi di Wuhan, China pada tahun 2019. Sudah banyak orang yang terkonfirmasi positif akibat Covid-19, belum ditambah lagi menghadapi jutaan kematian akibat ganasnya pandemik ini. Akibat meluasnya dampak yang disebabkan oleh penyebaran Covid-19, bencana non alam ini dinyatakan Global Pandemic oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020.
Dampak pasca bencana setiap individu sangat bervariasi sebagian orang mengalami kehilangan kerabat, kehilangan sahabat, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, kehilangan makna hidup, kehilangan masa depan bahkan kehilangan rasa aman. Namun, apakah kita mengetahui dampak yang dialami oleh para penyintas ini juga terjadi beberapa tahapan, antara lain:
Tahapan tanggap darurat (terjadi beberapa jam / hari setelah bencana). Pada tahapan ini, dampak yang biasanya terjadi bagi para penyintas adalah pengalaman numbing yaitu suatu kondisi mati rasa secara psikis, kemudian hal lainnya penyintas juga akan mengalami perasaan linglung, rasa bersalah, ketidastabilan emosi, histeris dan lainnya)
Tahapan pemulihan (terjadi saat situasi telah stabil). Pada tahapan ini, penyintas akan mengalami gejala Pasca Trauma Stress Disorder (PTSD), kecemasan berlebihan secara menyeluruh, duka cita yang ekstrem, depresi berkepanjangan, bahkan kesulitan untuk tidur.
Tahapan rekonstruksi (1 tahun atau lebih setelah bencana). Pada tahapan ini, pola kehidupan penyintas berangsur stabil, mungkn yang lain akan mengalami perubahan kepribadian secara permanen.
Dengan mengenali tahapan-tahapan atas dampak psikologis yang terjadi terhadap para penyintas maka tentunya kondisi kebutuhan dukungan psikososial perlu segera dipenuhi agar dapat mempersiapkan para penyintas menjalani kehidupannya di kemudian hari.
Mengenal Bentuk Dukungan Psikososial melalui Psychological First Aid
Dukungan psikososial mencakup dua hal utama yang perlu diperhatikan yaitu mengacu pada jiwa yaitu kemampuan pikiran, emosi, dan perilaku yang tentunya akan memberikan pengaruh pembentukan kualitas diri sesesorang ke depannya. Hal yang kedua adalah terkait konsep sosisal dimana merujuk pada lingkungan sosial, norma, sistem kemasyarakatan, keagamaan, kekeluargan, hingga keyakinan yang membentuk tatanan masyarakat itu sendiri.
Hal lain yang juga perlu dipahami terkait PFA adalah tiga prinsip utama dari PFA dikenal dengan SFA (Safety, Function, dan Action). Prinsip pertama yaitu memberikan rasa aman (safety), tujuan utama adalah mengembalikan rasa aman dan menyediakan kebutuhan dasar orang yang memerlukan dukungan. Pada prinsip ini perlu diterapkan agar penyintas dapat terhindar dari rasa bahaya dan menyediakan tempat yang aman.

