Apa yang anda pikirkan ketika mendengar tentang pengobatan alternatif?
Ya, pikiran kita akan langsung tertuju pada dukun, urut, pengobatan tercepat, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana penjelasan pasti mengenai pengobatan alternatif hingga keterkaitannya dengan pseudosains dan psikologi? Simak penjelasannya berikut ini.
Pengobatan alternatif adalah segala usaha pendekatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang berbeda dari apa yang biasanya ditangani oleh pengobatan konvensional. Pengobatan alternatif cenderung bersifat komplementer (tambahan) dan tidak dapat dijadikan sebagai substitusi (pengganti) bagi pengobatan medis konvensional. Sepanjang sejarah, pengobatan alternatif dan pengobatan konvensional selalu ada dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Pengobatan alternatif berkisar dari sistem pengobatan dengan teori penyakit yang berlainan, metode diagnosis, jenis pengobatan, hingga penggunaan tunggal bahan alami. Pengobatan ini bukan hanya didasarkan pada paradigma alternatif (paradigma yang melibatkan interpretasi/asumsi dasar peneliti), melainkan juga dapat didasarkan pada hipotesis biokimia yang belum terbukti.
Salah satu topik yang paling kontroversial dari pengobatan alternatif adalah homeopati. Homeopati adalah sistem pengobatan yang melibatkan terapi individu menggunakan zat yang sangat cair yang bertujuan untuk memicu sistem alami tubuh dalam proses penyembuhan. Homeopati umumnya didistribusikan dalam bentuk tablet dan pengobatan ini merupakan salah satu terapi komplementer yang paling umum dilakukan oleh para penderita kanker. Beberapa orang menyatakan bahwa tubuhnya terasa lebih baik setelah melakukan pengobatan homeopati. Namun, tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa homeopati membantu proses penyembuhan, bahkan para peneliti percaya bahwa homeopati memiliki efek plasebo.
Hal ini memunculkan banyak pertanyaan, apakah homeopati termasuk dalam teori pseudosains?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengetahui, apa itu pseudosains? Secara sederhana, pseudosains adalah ilmu palsu. Secara umum, pseudosains merupakan pengetahuan atau keyakinan yang dianggap sebagai sesuatu yang ilmiah tetapi tidak dapat dibuktikan atau diuji dengan metode ilmiah yang ada. Perbedaan utama antara pseudosains dan sains terletak pada konsep falsifiabilitas, yakni pembuktian bahwa suatu pandangan, pernyataan, atau teori dapat difalsifikasikan atau dibuktikan salah melalui observasi atau uji coba fisik. Dalam hal ini, sains cenderung mencari bukti yang dapat menyatakan bahwa teorinya adalah salah sedangkan pseudosains memiliki kecenderungan untuk mencari bukti yang menyatakan bahwa teorinya adalah benar.
Homeopati bukanlah obat. Studi yang mengklaim bahwa homeopati memiliki beberapa manfaat kesehatan sangatlah cacat, tidak akurat, dan dirancang dengan buruk. Homeopati adalah suatu sistem kepercayaan yang gigih. Homeopati bukanlah suatu pendekatan ilmiah untuk proses penyembuhan dan hal itu tidak dapat diterima sebagai bagian dari naturopati atau obat-obatan. Efektivitas homeopati berasal dari plasebo dan interaksi antara pasien dengan terapis. Mayoritas praktisi homeopati dan pasien kurang menyadari adanya efek plasebo yang dihasilkan dari keberadaan dan kekuatan sugesti. Akan tetapi, hal ini tidak mengubah fakta bahwa hasil yang mereka dapat mengenai homeopati adalah salah dan dapat membahayakan.
Lantas mengapa homeopati masih dilakukan hingga saat ini?
Umumnya, masyarakat yang menyebarkan pseudosains akan menggunakan pendekatan yang seolah-olah historis. Misalnya, homeopati adalah metode pengobatan yang sudah ada sejak abad ke-5 sebelum masehi, yakni pada zaman Hippocrates yang merupakan seorang ahli perubatan Greek.
Dalam kajian psikologi, pendekatan pengobatan alternatif ini memanfaatkan Efek Dunning-Kruger, yakni kepercayaan diri yang tumbuh karena ketidaktahuan. Artinya, makin kecil kemampuan kita dalam mengenali kapasitasitas pengetahuan yang kita miliki maka makin kecil juga tingkat kemungkinan kita dalam mengenali kesalahan dan kekurangan yang kita miliki.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

