Kapan Istilah Neuroplastisitas Ditemukan?
Psikiater Norman Doidge melakukan riset menelusuri keyakinan dan praktek ilmu pengetahuan tentang otak manusia. Hasil riset tersebut kemudian ia terbitkan tahun 2007 dalam buku The Brain that Changes Itself: Stories of Personal Triumph From the Frontiers of Brain Science. Buku ini menarik, karena memberikan informasi mengapa manusia percaya bahwa kapasitas otak itu tidak berubah dan tidak mampu berubah setelah manusia dewasa.
Menurutnya ada tiga hal yang menyebabkan keyakinan tersebut, pertama adalah keyakinan kuno bahwa otak sangat mirip dengan mesin yang luar biasa, mampu melakukan hal-hal menakjubkan namun tidak mampu tumbuh dan berubah.
Kedua, manusia belum memiliki alat canggih yang mampu melihat otak secara mikroskopis dan yang terakhir adalah kenyataan bahwa orang yang menderita kerusakan otak serius seringkali tidak dapat pulih. Alasan-alasan tersebut yang membuat manusia percaya bahwa otak tidak mampu berubah.
Namun penelitian modern kemudian menemukan bahwa otak dapat berubah dan meningkatkan kapasistasnya. Ini diawali ide yang aslinya telah bisa ditemukan dalam buku monumental karya bapak psikologi modern, William James, The Principles of Psychology.
Dalam buku yang diterbitkan tahun 1890, terdapat kalimat menarik yang ditulis “Organic matter, especially nervous tissue, seems endowed with a very extraordinary degree of plasticity.” William James percaya bahwa jaringan sel saraf memiliki plastisitas yang luar biasa.
Pada 1920-an, peneliti Karl Lashley menemukan bukti perubahan jalur saraf monyet rhesus. Pada 1960-an, para peneliti mulai mengeksplorasi kasus-kasus di mana orang dewasa yang lebih tua yang menderita stroke parah dapat kembali berfungsi, menunjukkan bahwa otak lebih lunak daripada yang diyakini sebelumnya.

