Akhir-akhir ini istilah mindfulness kian popular. Menurut Thich Nhat Hanh, seorang aktivis Vietnam, mindfulness adalah kesadaran dan perhatian penuh terhadap apa yang terjadi di dalam diri kita dan apa yang sedang kita lakukan.
Pernah nggak, sih, merasa overthinking atau berpikir berlebihan terhadap sesuatu? Entah itu kejadian di masa lalu yang tidak sesuai ekspektasi ataupun kecemasan akan sesuatu di masa yang akan datang. Kehidupan yang bergulir semakin cepat terkadang membuat kita merasa dituntut untuk menjadi “ini” dan “itu” atau menghasilkan “ini” dan “itu”.
Sehingga pikiran kita seringkali dihantui dengan rasa takut, cemas, dan was-was. Hal ini justru membuat kita tidak fokus terhadap apa yang sedang kita kerjakan pada “saat ini” dan pada “detik ini”. Sebuah penelitian menunjukan rata-rata manusia kehilangan 1 jam 20 menit setiap hari untuk tidak “hadir” dalam kehidupannya.
Contohnya, ketika kita melakukan suatu pekerjaan sebutlah pekerjaan A, pikiran kita malah tidak fokus terhadap pekerjaan A melainkan memikirkan hal lainnya, entah itu tentang masalah pekerjaan B, masalah keluarga, masalah kemarin, atau kekhawatiran akan masalah yang kemungkinan muncul di masa depan.
Jika kita terbiasa untuk tidak mindful dalam kehidupan sehari-hari, kita akan cenderung menjadi pribadi yang emosional dan tempramen. Hal ini akan membuat otak kita lebih sering mengaktifkan area amygdala, dimana area ini merupakan tempat otak kita memproses emosi dan memori tentang rasa takut.
Sebaliknya, apabila kita berlatih untuk hidup sadar (mindful), area prefrontal cortex yang merupakan bagian otak untuk berpikir logis dan rasional akan lebih aktif. Orang yang sering menggunakan area prefrontal cortex akan lebih mudah berpikir jernih, tenang, dan dapat mengontrol diri dari emosi negatif yang berlebihan.
Selain itu, apabila kita tidak terbiasa mindful, otak kita akan sering mengaktifkan mode autopilot. Mode autopilot digunakan ketika kita melakukan suatu rutinitas sehari-hari berdasarkan kebiasaan hingga tertanam ke dalam pikiran bawah dasar. Dalam kata lain, segala aktivitas yang dilakukan tersebut tanpa kesadaran penuh dan lebih mengandalkan naluri. Hal ini membuat kita tidak merasa “utuh” ketika menjalani kehidupan dan akan mudah merasa bosan.
Selain itu, kita juga seringkali lupa akan apa yang kita lakukan karena kita melakukan hal tersebut tanpa kesadaran penuh. Contohnya, kita sibuk mencari-cari suatu barang dan akhirnya kita baru sadar ternyata barang itu ada di saku baju kita, atau ternyata barang itu kita pegang sedari tadi.
Tidak mindful juga menyebabkan kita seringkali mengalami “intentional blink”, yang mana pikiran terlintas begitu saja dan kemudian kita melupakannya dalam sekejap. Contohnya, kita seringkali berkata, “Eh, tadi saya mau melakukan apa, ya?”
Apabila kamu merasa selama ini sering tidak “utuh” dalam menjalani hidup, mungkin kamu perlu berlatih untuk hidup sadar alias mindful. Cara yang paling popular untuk mencapai mindfulness adalah dengan berlatih meditasi. Berikut ini adalah contoh meditasi yang bisa kamu terapkan:
Meditasi duduk. Cobalah duduk bersila, penjamkan mata, lalu tarik napas dan hembuskan secara berulang. Kemudian, rasakan aliran udara yang keluar masuk dari hidung dan rasakan dada dan perut yang mengembang dan mengempis. Lakukan ini selama 5-30 menit secara konsisten setiap harinya.
Meditasi jalan. Cobalah berjalan-jalan di suatu tempat yang tenang, kemudian rasakan langkah kakimu dan pijakannya yang menyentuh tanah. Rasakan pula ayunan lenganmu yang mengiringinya.
Mindful eating. Saat makan, cobalah berlatih fokus pada aktivitas makan tersebut. Berikan perhatian penuh pada apa yang dimakan, resapi kegiatan mengunyah, dan rasakan betul cita rasa makanannya.
Sebenarnya latihan mindfulness ini bisa dilakukan kapan saja dan di momen apa pun. Yang terpenting adalah setiap melakukan kegiatan apapun itu, kita berusaha untuk “sadar”, “hadir” secara jiwa, raga, dan pikiran pada momen tersebut. Jauhkan pikiran kita dari pikiran-pikiran lain yang mengganggu.

