Manusia hidup tentunya dilingkupi oleh berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupannya. Permasalahan ini hadir tanpa diminta. Artinya permasalahan muncul secara tiba-tiba. Namun kanyataannya permasalahan ini terkadang mampu memunculkan sebuah perasaan yang negatif seperti kekecewaan, sakit hati, dan lain sebagainya. Bukankah hal seperti ini sering kalian rasakan?
Melihat berbagai fenomena yang terjadi saat ini, sering kali manusia mengalami keputusasaan akan permasalahan yang terjadi. Sebut saja seorang remaja yang dimasa pertumbuhannya mengenal cinta dan kasih sayang dari lawan jenis.
Pada masa-masa tersebut, anak remaja tersebut akan memberikan berbagai harapan dan juga pandangan yang baik akan orang yang dicintai dan disayanginya. Namun apabila dalam kenyataannya tidak seperti apa yang dibayangkan maka ia akan merasa kecewa, sakit hati, dan lain sebagainya. Tentu hal ini dipengaruhi dengan berbagai hal dan latar belakang permasalahan yang terjadi.
Masa remaja merupakan masa paling indah dalam fase kehidupan manusia karena pada masa remaja seseorang akan mulai bergaul dengan banyak orang dan membentuk persahabatn dengan teman dan mulai menyukai lawan jenisnya, sehingga mulai merasakan jatuh cinta.
Hal ini tentunya wajar dan normal terjadi bagi remaja. Jatuh cinta merupakan problem sendiri bagi remaja yang mengalaminya. Berbicara mengenai jatuh cinta tentu saja tidak selalu membahas hal yang membahagiakan tetapi juga berani jatuh cinta sudah pasti harus berani juga untuk mengalami putus cinta (Annisa, 2016).
Jika dilihat dari teori psikologi, tentunya hal ini merupakan hal yang biasa yang terjadi dalam perkembangan hidup manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh (Saputri & Moordiningsih, 2016) bahwasanya dinamika perasaan yang dimiliki oleh seseorang merupakan hal yang wajar dan pasti saja terjadi.
Oleh karenanya, ketika terjadi sebuah perasaan kecewa, marah, sakit hati apabila dikaji dari sudut pandang teori psikologi itu merupakan hal yang wajar dan pasti dialami oleh setiap manusia.
Sedangkan pandangan lain juga menyampaikan bahwasanya kehadiran dari perasaan tersebut muncul dari pemikiran seseorang (Werang et al., 2017).
Dari pandangan tersebut sebenarnya ingin menunjukkan bahwasanya apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia baik itu perasaan senang, bahagia, kecewa, sakit hati, dan lain sebagainya bersumber dari pemikiran manusia. Artinya bahwa segalahal yang terjadi dalam kehidupan ini bersumber dari pemikiran manusia.
Pemutusan hubungan romantic atau putus cinta mempunyai dampak dan reaksi yang beragam pada individu, baik dalam segi emosi, perilaku maupun kognitif.
Penelitian Sbarra dan Emery dalam Pinkan memperlihatkan bahwa setelah putus cinta seseorang merasakan emosi yang negative seperti sedih dan kurang merasakan cinta, marah, sakit frustrasi, kebencian, kesepian, depresi, putus asa,hingga traumatic. Seperti yang diungkapkan oleh (Fitriani, 2022) mengatakan bahwa sebagian remaja akhir saat mengalami putus cinta ada yang mampu mengontrol emosinya dan ada yang kurang mampu mengontrol emosi.

