Islam, dalam hal ikhtiar menekankan terhadap signifikansi konteks belajar pada perkembangan, progress dan tujuan manusia. Yang dimana seharusnya subsistem-subsistem yang satu dengan lainnya berhubungan secara fungsional.
Terlebih pada fungsi kognitif (akal) dan fungsi sensori (indera-indera) seperti apa yang terdapat dalam Al Qur’an yakni ya’qilun, yatafakarun, yubshirun, yasma’un, (dan sebagainya), kesemuanya merupakan bukti-bukti betapa pentingnya penggunaan fungsi ranah cipta dan karsa manusia dalam belajar dan meraih ilmu pengetahuan .
Ya, menurut Muhibbin Syah (2002), seperti yang terungkap dalam beberapa firman Allah, dipaparkan bahwa seberapa pentingnya Indera penglihat (mata), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
Kemudian Indera pendengar (telinga), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal. Kemudian yang terakhir ialah akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang komplek untuk menyerap,mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif). (Muhibbin :2000)
Pula dalam surat al-Nahl:78 Allah SWT berfirman: yang artinya “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan af-idah (daya nalar), agar kamu bersyukur. (QS, al-Nahl:78)
Dalam ayat-ayat Al Qur’an yang dipaparkan sudah sangat jelas bahwa seberapa pentingnya peran alat indra bagi proses belajar anak (Manusia). Dimana seorang manusia dilahirkan tanpa mengetahui apa-apa, yang tentunya diharapkan oleh para orangtua agar seorang anak dapat berkembang menjadi manusia yang utuh.
Umumnya, seorang anak akan mengalami fase perkembangan adaptif, yakni keinginan bereksplorasi yang semakin meningkat dan tidak mungkin baginya untuk terus mengandalkan orang lain untuk hidup.Keseluruhan fungsi sensori pada anak akan menjadi kebutuhan yang bersifat fisio-psikis dalam menjalankan suatu kegiatan, rangsangan dan aktivitas belajar yang sejalan pada perkembangan anak.

