Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Menggagas Diri Bermakna

Home > Artikel Baru > Menggagas Diri Bermakna

Menggagas Diri Bermakna

Posted on 4 September 2022 by admin
0

Setiap orang itu rapuh dan mudah terluka, bila tidak ditangani dengan baik maka pribadi yang terluka dapat melukai yang lain hingga lungkrah lalu musnah”

Demikian hal yang saya cercap dari novel ‘The Good Samaritan’ tulisan John Marrs. Judul tersebut hampir saja membuat saya terkecoh bila merujuk pada kisah Orang Samaria yang Baik Hati dalam alkitab. Tapi bila diinterpretasi lebih dalam, barangkali ceritanya mirip tapi dengan versi yang lebih menggelitik nalar.

Laura Morris adalah seorang konselor di lembaga ‘End of Line’ mestinya menjadi seorang pembimbing ke arah jalan pulang yang benar terhadap jiwa-jiwa malang dimana mereka menenelpon karena dirundung soal. Secara umum, ya. Tapi Laura adalah konselor yg maniak akan ‘napas terakhir’ dari mereka yang ingin mati bunuh diri. Alih-alih menolong orang agar tidak mengakhiri hidup dengan tragis, bunuh diri, karena beban hidup yang mendera, ia malah membuka jalan toll menuju pilih itu.

Ia memastikan tekad orang itu bulat untuk mengakhiri hidup, misalnya dengan aksi nekad terjun dari ketinggian tebing atau jurang, lompat di rell saat ada kreta yang sedang melaju kencang, gantung diri di rumah dan bermacam lainnya.

Ia melakukan riset cara bunuh diri yang paling efektif dengan rencana yang rapi tanpa kesalahan atau menyakitkan. Terjun dengan kepala terlebih dahulu atau memastikan simpul pada posisi yang benar saat gantung diri di kamar. Memastikan kayu kasau tempat tali gantung diri tidak roboh akibat bobot berat badan yang tidak dapat ditahan kayu kasau. Ia meriset tali yang paling baik untuk digunakan membunuh/menggantung diri.

Ia menolong setiap jiwa malang tersebut merealisasika pilihan bebasnya untuk mengakhiri hidup. Ia membimbing mereka via telepon dan mendengar kandidat potensialnya menghembus nagas terakhir yang hangat, lalu mati.

Tapi ia tidak rapi ketika ia menghabisi Charlotte yang malang. Seluruh rekaman obrolan Laura dan Charlotte terdokumentasi dilaptop dan dapat diakses suaminya, Ryan, yang kemudian menyamar sebagai Steven saat hendak menuntaskan kesumatnya atas kamatian Charlotte istri dan janin laki-lakinya dalam kandungan Charlotte yang mereka beri nama Daniel.

Istrinya mati secara tragis dengan seorang laki-laki yang bernama David karena terjun di jurang tebing dengan kepala ke bawah lalu mati dan tersapu gelombang. Mereka berhasil membulatkan tekad untuk terjun atas arahan Laura dengan persiapan yang mantap. Laura tidak pernah tahu kalau David adalah nama samaran karibnya, Nate, yang sudah bosan hidup menggelandang. Mereka mati tragis penuh damai karena konsekuensi dari pilihan bebas dan tidak lagi dapat menemukan makna dan nilai hidup.

Ryan membalaskan dendam kematian istrinya, terutama janin laki-laki yang sama sekali tidak berdosa. Ia menyamar jadi Steven lalu bersikeras hendak menghabisi Laura dengan modus bahwa Steven hendak gantung diri di rumahnya karena beban hidup yang luar biasa tak tertangguhkan. Tapi Laura selalu menang walaupun ia sempat masuk dalam perangkap Ryan. Bahkan gulungan bola salju persoalan yang disebabkan atau didesain Ryan untuk menuntaskan kesumatnya justru berbalik menghabisi diri Ryan sendiri di ujung jurang, bunuh diri. Laura selalu menang. Ia merancang strategi jitu untuk melenyapkan Ryan.

Laura juga berhasil menghabisi Jenny yang telah merebut suaminya, Tomy. Tragisnya, kematian Jenny berhasil membersihkan namanya dan seluruh alat bukti yang digunakan di TKP adalah alat-alat dari rumah Ryan dengan salah satu foto Laura yg diremas hingga kusut dan tergeletak dilantai. Ryan pun lalu bunuh diri dengan menjelaskan selurunya via surel kepada adiknya, Johny. Hendak membalas dendam kakanya justru Johny tewas di tangan Tommy, suami Laura, ketika Johny tengah mengancam Laura di taman dimana ia hendak menenggelamkan anak cacat Laura, Henry, ke dasar danau.

Tommy sama sekali tidak bahagia hidup sebagai suami dan seatap dengan Laura setelah membaca dokumen Laura dari dinas sosial yang tidak disimpannya dengan rapi. Tapi, Tomy tidak bisa berbuat banyak sebab ada satu rahasia terbesar dalam bisninya dipegang oleh Laura. Bila dia macam-macam maka bisa jadi berurusan hukum dan dipenjara. Tommy sangat mencintai dua anak gadisnya, Effie dan satu lagi serta anak laki-lakinya yang mengalami cacat akibat ulah Laura.

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds