Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Mengenal Cognitive Dissonance Menurut Psikologi

Home > Artikel Baru > Mengenal Cognitive Dissonance Menurut Psikologi

Mengenal Cognitive Dissonance Menurut Psikologi

Posted on 21 June 2022 by admin
0

Cognitive Dissonance atau dalam bahasa Indonesia disebut disonansi kognitif adalah keadaan di mana psikologis seseorang merasa tegang, tidak menyenangkan, dan tidak nyaman akibat adanya dua atau lebih kognisi yang tidak konsisten atau tidak selaras satu sama lain. Kognisi sendiri berarti pikiran, sikap, keyakinan, atau keadaan kesadaran perilaku.

Jadi, Teori Disonansi Kognitif adalah teori dalam psikologi sosial yang membahas mengenai ketidaknyamanan seseorang karena memiliki sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan sebagai akibat dari inkonsistensi. Terdapat perbedaan antara apa yang dipercaya dengan kenyataan yang terjadi dan hal tersebut dilakukan secara sadar.

Lalu apa yang terjadi? Prosesnya adalah ketika seseorang memiliki keyakinan/sikap negatif terhadap sesuatu namun ia justru berperilaku positif, begitu sebaliknya. Misalnya, seseorang yang percaya bahwa monogami (hanya memiliki satu pasangan pada pernikahan) adalah hal yang penting pada pernikahan.

Cognitive Dissonance atau Disonansi Kognitif sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang tahu bahwa menunda pekerjaan adalah hal yang tidak baik, namun ia tetap saja bermalas-malasan dan menunda pekerjaan hingga tenggat waktu pengumpulan pekerjaan yang sangat dekat. Tak hanya itu, contoh lainnya adalah merokok. Seseorang yang merokok pasti tahu bahwa rokok itu sangat berisiko dan bisa mengganggu kesehatan. Namun, ia tetap saja merokok.

Pada tahun 1957, Leon Festinger (seorang psikolog sosial Amerika) mengusulkan supaya kita mencari keselarasan antara pikiran, sikap, dan perilaku kita. Beliau juga menyarankan agar kita bisa mengurangi ketegangan akibat inkonsistensi antara elemen-elemen tersebut. Hal ini dijelaskan dalam teori yang disebut dengan teori konsistensi kognitif oleh Leon Festinger. Teori konsistensi kognitif membahas bagaimana orang berusaha untuk mempertahankan konsistensi dan kesepakatan antara kognisi, sikap, dan perilaku mereka.

Mereka melakukan 3 hal, yaitu mengubah satu atau lebih dari kognisi yang tidak konsisten, mencari bukti tambahan untuk mendukung satu sisi yang lain, atau dengan meremehkan sumber salah satu kognisi. Semakin besar disonansi yang dirasakan oleh seseorang, maka semakin besar juga upaya mereka untuk dapat menguranginya.

Misalnya dalam kasus perselingkuhan. Mereka yang berselingkuh kemungkinan besar memiliki perasaan tidak nyaman atau disonansi. Di satu sisi, mereka takut ketahuan oleh pasangannya, namun di sisi lain mereka juga tetap berselingkuh.

Semakin besar rasa takut dan tidak nyaman mereka, maka semakin besar juga upaya mereka untuk menguranginya. Untuk mengurangi disonansi tersebut, mereka mengubah kognisi mereka dengan bersikap seperti ‘Apa salahnya sedikit bersenang-senang jika tidak ketahuan?’.

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds