Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Mendobrak Stigma Buruk Tindak Senioritas di Suatu Kelompok Menjadi Dampak Solidaritas yang Sehat

Home > Artikel Baru > Mendobrak Stigma Buruk Tindak Senioritas di Suatu Kelompok Menjadi Dampak Solidaritas yang Sehat

Mendobrak Stigma Buruk Tindak Senioritas di Suatu Kelompok Menjadi Dampak Solidaritas yang Sehat

Posted on 5 November 2022 by admin
0

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menganalisis dari beberapa pertanyaan-pernyataan dan turut berkonribusi dalam penyelesaian pengklaiman alih-alih dangkal dalam menilik penindakan sosial beberapa kelompok ataupun organisasi bahwa ;apapun dan siapapun yang akan membawa keuntungan maupun kerugikan pada identitasnya, ia yang akan kemudian diasingkan serta dibedakan dan ataumalah sebaliknya ;didewakan tindakannya oleh wadah/lingkungan kelompoknya ataupun media massa.

Jika benar adanya, dapat dibayangkan bagaimana nasib wadah suatu kelompok/organisasi dibalik kerasnya penggempuran berita media massa terkait tindas-menindasnya suatu kelompok yang belum lagi anggota didalamnya merasa keberadaan personalitasnya terancam oleh suatu kelompoknya sendiri?

Melihat perumpamaan, kali ini bukan hanya soal anekdot-nya rakyat jelata yang tidak dianggap bau keberadaannya oleh para oknum penguasa tanah negeri, tapi lebih pada menilik masalah utama dari suatu kelompok atau sebuah organisasi yang sudah semakin kritis akan pembentukan solidaritas sosial didalamnya.

Tidak heran jika akhirnya nyawa identitas suatu kelompok akan berakhir punah dan berkemungkinan besar akan meninggalkan jejak buruk bagi suatu anggota dan sejarah bagi momentum label kelompok hanya karena dosa-dosa moral dari apa-apa yang berada didalamnya ;individualis bertemaram-solidaritas terancam.

Lagi-lagi suatu kelompok melalaikan tujuan dari pasak berdirinya, seolah-olah kejayaan identitasnya hanya berasal dari perbudakan kekuasaan untuk ke-eksis-an semata, mereka melupakan makna dari solidaritas yang padahal disitulah letak utama nyawa dari rumahnya. Hamidah (2011;21-22) dalam hukum Romawi dikatakan bahwa solidaritas menunjuk pada idiom “Semua untuk masing-masing dan masing-masing untuk semua” Lalu dengan teori tersebut, apa yang sebenarnya menjadi sebab dari kasus peretakan sebuah relasi kelompok? Lagi-lagi jawabannya ialah ada pada bagaimana inti dari sebuah kelompok itu sendiri yakni orang-orang dan lingkungan yang memainkan peran didalamnya.

Entah itu berlandas karena kekuasaan bergengsi anggota loyalitas yang berpangkat atau lahirnya keluguan anggota-anggota baru yang sebenarnya merupakan generasi emas suatu kelompok,-atau bahkan berasal dari sistem yang mewadahi keduanya. Kemudian jika terjadi ketidakseimbangan, apakah tumbal pelaku dari masalah berada pada anggota berpangkat yang bertitle senior saja?

Dan kemudian tanda tanya besar disini ialah ;Apakah semua senior sepadan dengan istilah senioritas? Istilah yang secara ilmiah mampu menyeret kita pada pandangan “Manusia tua yang mendewakan diri?” atau “Keloyalitas anggota yang memiliki hak istimewa?” yang tentunya -tidak jauh-jauh, secara sadar atau tidak ;tugas dari istilah tersebut ialah antara menghidupkan ataupun mematikan kalangan suatu kelompoknya.Kemudian bagaimana dengan nasib mereka si junior, si bau kencur, si anak kemarin sore/si ingusan yang di elu-elukan kemalangannya? Yang jika benar bahwa mereka pantas disebut korban pada suatu kasus, maka begitupula dengan si sesepuh-nya suatu kelompok yang sudah biasa menjadi tumbal dengan disebutnya sebagai pelaku suatu kasus.

Alangkah pentingnya bagi masing-masing anggota (baik junior maupun senior) untuk bisa memilah-milih peran mana yang harus ia perankan dengan-sebaik-baiknya ;tegas yang bermoral serta alangkah pentingnya suatu sistem pimpinan atau suatu wadah kelompok untuk mampu melihat gejala-gejala kecil dari suatu permasalahan yang tersurat maupun tersirat.

Sistem yang hanya menilik dampak positif disamping sebab negatif atau hanya memfokus kasus negatif daripada memanfaatkannya menjadi keseimbangan ialah hal kecil yang teramat penting dari tugasnya  (suatu sistem kelompok) “tapi” alangkah sering dilalaikan dan sudah pasti bahwa dari kesemua itu tidak lain mempunyai gejala sebab yang sama yakni kekuasaan dan pastinya dampak besar suatu kelompok mau tak mau harus menanggung akibat dari faktor senioritas yang kerap terjadi baik mereka sadari atau tidak.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds