Berawal dari dilaporkannya 27 orang yang menderita penyakit mirip pneumonia pada akhir November 2019 dengan gejala kesulitan bernapas, demam tinggi, dan keadaan paru-paru yang tidak normal, hingga membuat masyarakat menjadi panik dan takut akibat meningkatnya jumlah pasien yang terjangkit dan menyebar ke luar China, tidak terkecuali Indonesia. Sejak 11 Maret 2020 virus Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO. Hingga saat ini, berbagai negara masih menghadapi pandemi Covid-19. Menurut WHO (World Health Organization), virus Covid-19 merupakan keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan dan manusia. Pada dasarnya, Covid-19 atau Coronavirus Disease merupakan jenis baru yang pertama kali teridentifikasi dan terdeteksi di Kota Wuhan China, dan belum pernah terindikasi menjangkiti manusia. Melonjaknya kasus positif Covid-19 di berbagai negara menekan WHO untuk mengumumkan bahwa situasi yang terjadi adalah darurat pandemi global dan menyarankan masyarakat di seluruh dunia untuk berhenti beraktivitas di ruang publik guna menekan penyebaran virus.
Pandemi ini memberikan pengaruh dan dampak yang tidak biasa bagi kehidupan, tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis. Ahli Kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga menerangkan terdapat krisis kesehatan mental yang disebabkan oleh pandemi (Anwar, 2020). Ketika peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia beberapa waktu lalu, WHO berpandangan jika Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di tahun 2021 mempunyai makna yang khusus. Pandemi membuat semua orang, hampir seluruh kelompok usia dari berbagai belahan dunia, terpaksa menerapkan beberapa kebiasaan baru yang berdampak pada kesehatan mental mereka. Tak terkecuali petugas medis yang menjadi garda terdepan untuk membantu masyarakat untuk sembuh, siswa yang dilarang untuk datang ke sekolah, para pekerja yang beresiko terjangkit virus serta adanya kritis gelombang PHK, kacaunya perekonomian masyarakat, sampai beberapa diantara mereka diharuskan untuk melakukan isolasi daerah atau lock down, akibat dari beberapa hal kompleks tersebut mengakibatkan adanya penurunan kualitas kesehatan mental. Kehilangan anggota keluarga pun tidak luput memberikan tanggungan mental bagi mereka yang ditinggalkan.

