Dampaknya, orangtua dan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus berusaha membawa anak-anak mereka untuk dapat menguasai kompetensi tersebut sebelum anak-anak mereka masuk SD.
Tidak jarang ditemukan orangtua tertekan karena anak mereka belum mampu membaca, atau malah sebaliknya, mereka merasa sangat bangga dan menganggap anak mereka berbakat karena mampu membaca di usia yang masih sangat muda.
Mendefinisikan Bakat
Istilah bakat dalam bahasa Indonesia bisa jadi membingungkan. KBBI mengartikan bakat sebagai (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Istilah ini seringkali digunakan tumping tindih dengan istilah lain seperti, talenta, jenius, pandai, pintar, cerdas, cerdik dan bahkan kreatif. Dalam bahasa inggris, bakat memiliki padanan kata gifted, talent, aptitude, genius, intelligent.
Untuk membantu mengurangi beberapa kebingungan, akan sangat membantu untuk memahami dari mana istilah berbakat pertama kali berasal dan perspektif berbeda yang mengarah pada berbagai definisi yang kita miliki saat ini.
Ungkapan “gifted” pertama kali digunakan pada tahun 1869 oleh Francis Galton, yang menentukan bahwa bakat adalah sifat bawaan yang ditunjukkan oleh pencapaian orang dewasa.
Psikolog Lewis Terman, yang terkenal dengan studinya tentang pendidikan berbakat, memperluas pandangan Galton tentang anak-anak berbakat untuk memasukkan IQ tinggi.
Pada awal 1900-an, Terman dan seorang guru, Lulu Stedman menetapkan bahwa anak-anak berbakat didefinisikan sebagai anak-anak dengan IQ 140 atau lebih.
Namun, pada tahun 1920-an, psikolog Leta Hollingworth menyarankan ada batasan untuk menggunakan IQ sebagai satu-satunya prediktor untuk bakat. Hollingworth mengamati bahwa anak-anak berbakat mungkin menunjukkan tanda-tanda bakat di beberapa area, tetapi tidak di area lain.
Hollingworth mengusulkan bahwa pengasuhan rumah dan lingkungan sekolah merupakan faktor penting untuk mengembangkan potensi anak berbakat.

