Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Makna Kebahagiaan Sebaiknya Tidak Perlu Diperdebatkan

Home > Artikel Baru > Makna Kebahagiaan Sebaiknya Tidak Perlu Diperdebatkan

Makna Kebahagiaan Sebaiknya Tidak Perlu Diperdebatkan

Posted on 23 March 2022 by admin
0

Kebahagiaan merupakan kata yang mungkin sering kita dengarkan di dalam khotbah keagamaan maupun acara seminar yang disampaikan oleh seorang motivator. Dan mungkin saja sering kita bahas saat kita nongkrong waktu senja di pinggir sungai atau di warung kopi.

Sebenarnya perdebatan tentang makna kebahagiaan menurut saya sampai saat ini tidak akan ada habisnya, dengan kata lain semakin diperdebatkan semakin bikin pusing.

Pengalaman pribadi saya ketika saya membahas tentang makna kebahagiaan dengan seorang teman, berujung dengan perdebatan. Saya sering membicarakan tentang makna kebahagiaan versi diri saya sendiri.

Saya mengutarakan bahwa kita akan bahagia kalau kita memiliki keadaan ekonomi yang cukup baik dan segala kebutuhan hidup tercukupi tanpa adanya kekurangan (dan tentunya tanpa adanya hutang). Makna itu saya sampaikan karena memang saya dalam beberapa tahun ini memiliki kesulitan ekonomi yang membuat saya sesak hati.

Setelah menceritakan makna kebahagiaan menurut versi saya, lantas teman saya membantah pendapat saya. Dia mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak dapat diukur oleh materi maupun uang. Teman saya ini mengatakan bahwa kebahagiaan itu akan didapatkan kalau kita bisa berkumpul dengan keluarga, hidup sederhana dan hidup dekat dengan Tuhan.

Tidak ada salahnya sih pendapat tersebut, karena teman saya ini seorang yang sangat religius dan seorang perantau yang hidup jauh dari keluarga. Dan pada akhirnya saya menghentikan perdebatan itu, yang menurut saya jika dilanjutkan tidak akan berdampak baik bagi hubungan kami.

Mungkin dari kita ada yang memaknai kebahagian seperti versi saya itu: Memiliki keadaan ekonomi yang cukup baik, tidak kekurangan, dan berlimpah materi. Mungkin juga ada dari kita yang memaknai kebahagiaan seperti versi teman saya. Atau ada yang memaknai kebahagiaan seperti misalnya dapat jabatan tinggi di tempat kerja, menang lotre undian, memiliki pacar yang cantik, dan lain sebagainya.

Dari situlah saya mulai merenungkan makna kebahagiaan sampai detik ini. Apakah makna kebahagiaan yang sering kita katakan itu dipengaruhi oleh pengalaman hidup pribadi atau idealisme yang dibentuk oleh masyarakat saja? Dan pada akhirnya dalam perenungan saya, saya menemukan sebuah teori yang sangat masuk akal.

Kebahagiaan atau dalam bahasa Inggrisnya “Happiness” dikemukakan oleh Ed Diener dengan istilah psikologinya yaitu “Kesejahteraan Subjektif” atau “Subjective Well-Being”, untuk lebih mudahnya kita singkat menjadi SWB.

SWB merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam rumpun psikologi positif. Diener mendefinisikan SWB sebagai evaluasi kognitif dan afektif seseorang tentang hidupnya. Evaluasi ini meliputi reaksi emosional terhadap suatu kejadian yang pernah dialaminya yang sejalan dengan penilaian kognitif terhadap kepuasan dan pemenuhan hidup. Dalam arti yang sederhana, seseorang akan memiliki pandangan tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup sesuai dengan penilaian subjektifnya.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds