Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Kita Terlalu Percaya Diri dengan Apa yang Kita Tahu

Home > Artikel Baru > Kita Terlalu Percaya Diri dengan Apa yang Kita Tahu

Kita Terlalu Percaya Diri dengan Apa yang Kita Tahu

Posted on 24 November 202225 November 2022 by admin
0

Kita semua suka mengamankan diri kita dari bahaya, dan salah satu cara yang kita lakukan adalah menilai dan mengendalikan kemungkinan resiko yang ada. Inilah mengapa kita membeli hal-hal seperti asuransi kecelakaan, dan kita mencoba untuk tidak menyimpan harta kita hanya di satu tempat.

Kebanyakan dari kita melakukan yang terbaik untuk mengukur risiko seakurat mungkin untuk menjamin kita tidak akan melewatkan peluang, sambil memastikan juga kita tidak melakukan sesuatu yang mungkin akan kita sesali.
Untuk mencapai hal ini, kita harus mengevaluasi setiap risiko yang mungkin terjadi dan kemudian mengukur kemungkinan bahwa risiko tersebut akan terwujud.

Misalnya, bayangkan kamu ingin membeli asuransi. Kamu ingin membeli polis yang akan melindungimu dari skenario terburuk, tapi juga tidak ingin menghambur-hamburkan uang. Dalam hal ini, kamu harus mengukur risiko penyakit atau kecelakaan terhadap dampak jika peristiwa2 tersebut benar terjadi, dan kemudian membuat keputusan yang tepat. Sayangnya, kita terlalu yakin kalau kita tahu semua kemungkinan resiko yang perlu kita hindari. Ini disebut ludic fallacy. Berdasarkan itu, kita cenderung menangani resiko seperti kita bermain game, dengan seperangkat aturan dan kemungkinan yang bisa kita tentukan sebelum bermain.

Namun, memperlakukan resiko seperti permainan adalah hal yang berisiko. Sebagai contoh, kasino ingin menghasilkan uang sebanyak mungkin, itulah sebabnya mereka memiliki sistem keamanan yang rumit dan melarang masuk pemain yang terlalu sering menang.

Tapi pendekatan mereka berdasarkan ludic fallacy. Ancaman terbesar bagi kasino mungkin bukan penjudi yang beruntung atau pencuri, melainkan, misalnya penculik yang menyandera anak pemilik kasino, atau karyawan yang gagal menyerahkan penghasilan kasino ke IRS. Ancaman terbesar kasino mungkin benar-benar tidak dapat diprediksi. Seperti yang terlihat, sekeras apapun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa mengukur risiko dengan akurat.

Memiliki pemahaman yang bagus akan batasan kita sebagai manusia dapat membantu kita membuat pilihan yang lebih baik.
Mungkin pertahanan terbaik agar tidak jatuh ke dalam jebakan kognitif adalah pemahaman yang baik tentang alat yang kita gunakan untuk membuat prediksi, dan keterbatasannya. Meskipun mengetahui batasan kita pasti tidak akan menyelamatkan kita dari setiap kesalahan yang akan kita buat, setidaknya itu bisa membantu kita mengurangi pengambilan keputusan yang buruk.

Misalnya, jika kamu sadar kamu rentan terkena bias kognitif, seperti semua orang, maka kamu akan lebih mudah sadar ketika kamu hanya mencari informasi yang mengkonfirmasi apa yang kamu yakini benar. Demikian juga, jika kamu tahu manusia suka mengatur segalanya menjadi narasi sebab-akibat yang rapi, dan bahwa pendekatan seperti ini menyederhanakan kompleksitas dunia, maka kamu akan lebih memilih untuk mencari informasi lebih lanjut untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik tentang “gambaran keseluruhan”.

Sedikit analisis diri ini bisa membantumu mendapatkan keunggulan kompetitif melampaui orang-orang di bidangmu.
Tentu lebih baik untuk menyadari kekuranganmu. Misalnya, jika kamu tahu akan selalu ada risiko yang tidak terduga ketika mengejar peluang apapun, terlepas dari betapa menjanjikannya peluang itu, kamu mungkin lebih memilih untuk tidak banyak berinvestasi di dalamnya.

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds