
Idealnya, anak tumbuh kembang dengan dua orangtua yang berdampingan. Namun, tak semua anak bisa mengalami hal demikian. Dika (10 tahun), tinggal hanya dengan Ibunya. Kedua orangtuanya bercerai saat ia berusia tiga tahun. Berbeda dengan Mutiara (30 tahun) tumbuh tanpa sosok ayah dari sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, karena sang ayah sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Lain lagi halnya dengan Karim (22 tahun) yang memiliki kedua orangtua lengkap tapi ayahnya tak pernah cukup berinteraksi. Ketiganya mungkin memiliki cerita yang berbeda namun mereka punya satu kesaaman, ketiadaan figur ayah.
Ketiadaan figur ayah bisa disebabkan oleh kematian, atau keputusan hukum (perceraian). Dilain itu, hilangnya sosok ayah juga bisa dikarenakan kehadiran fisik tanpa peran. Menurut dr. Irmia Kusumadewi SpKj(K) tak adanya sosok ayah bisa mengganggu perkembangan psikologis anak. Beberapa diantaranya;
- Anak secara konsisten mengeluhkan perasaan ditinggalkan, selalu merasa benci akan dirinya dan berusaha memerangi perasaan tersebut.
- Mempunyai kesulitan penyesuaian sosial, masalah pertemanan dan perilaku, sombong, mudah membenci, cemas dan tidak bahagia.
- Sering membolos, penurunan performa akademis.
- Kenakalan anak, kriminalitas pada remaja termasuk kekerasan dan kejahatan serta penyalahgunaan zat terlarang dan alkohol.
- Seks bebas dan kehamilan remaja.
- Anak dengan ketiadaan figur ayah akan merasa terlecehkan dan dengan mudah melakukan pelecehan.
Anak dengan kecemasan tinggi, mudah membolos tanpa alasan, melakukan atau menerima tindakan perisak memiliki kemungkinan dampak kurangnya peran ayah. Termasuk juga remaja yang mudah melakukan seks bebas dan sarat melakukan kenalakan remaja lainnya.

