Pertama kali tinggal di desa, saya sering terkejut dengan sapaan seseorang. Dia selalu menegur saya dengan satu kata sembari tersenyum aneh, “Weleh-weleh.”
Suami bilang, “Jawab saja, dia mengalami depresi sejak kecil.”
Saya jawab, seperti saya menyapa orang lain pada umumnya, walaupun tidak mendapat jawaban tepat, “Arep neng endi, koe?”
Hingga anak-anak saya lahir dan besar, sapaan menjadi bertambah, “Weleh, weleh, anake endi?”
Anak-anak saya pun, sering teriak memanggil namanya dengan tambahan “weleh, weleh”. Bukan ledekan, karena tidak semua orang disapanya.
Akhir-akhir ini, seorang gadis sering masuk ke pekarangan rumah dengan membawa kresek besar. Dia memetik buah lengkeng dengan tenangnya. Tidak masalah, jika berbuah, pada akhirnya saya pun akan membagikan hasil panen kepada tetangga.
Namun, sayang, tak pernah niat itu terlaksana, karena sudah habis duluan dipanen sang gadis desa itu dan kelelawar. Yang menjadi perhatian saya, gadis itu mengalami depresi. Menurut suami, dia depresi setelah usia remaja.
Beberapa bulan lalu, warga dikejutkan oleh amukan seorang remaja. Menurut desas-desus, dia mengalami depresi setelah lulus kuliah. Penyebabnya pun saya tidak tahu.
Saya pendatang di desa ini, jadi tidak tahu persis bagaimana kehidupan mereka pada masa kecil. Menurut suami, masa kecil mereka biasa saja, tidak ada kejanggalan, tidak ada gejala.
Kita juga mungkin menyadari, dua tahun terakhir ini, pandemi telah membawa perubahan. Banyak orang mengalami penurunan kesehatan, baik fisik maupun mental. Penurunan kesehatan bisa terjadi pada siapa saja, usia berapa saja.

