Indonesia memiliki kekayaan yang sudah diakui dunia sejak dahulu kala, selain kaya akan keindahan alamnya Indonesia juga kaya akan ragam nilai budaya sebagai kearifan lokal salah satunya adalah Budaya Tilik. Kegiatan menjenguk (Tilik) merupakan sebuah budaya dan tradisi masyarakat Jawa yang masih terus dilakukan hingga hari ini. Tilik juga menjadi kearifan lokal yang senantiasa dilestarikan dan menyebar di seluruh wilayah Jawa terutama Jawa Tengah, Jawa Timur serta Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Disebut kearifan lokal karena Tilik juga termasuk salah satu adat dan kebiasaan yang telah menjadi tradisi, dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini. Kearifan lokal dapat tercipta apabila pola pikir masyarakat memiliki budi pekerti yang baik, cinta tanah kelahiran, serta perangai atau tabiat masyarakat di daerah tertentu tetap menempel dan dibawa ketika berbaur dengan kelompok masyarakat/lingkungan yang berbeda serta turun temurun dari generasi ke generasi.
Tilik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti penglihatan yang teliti, sinar (pandangan) mata, tenung, teluh, yang memiliki kata turunan menjadi menilik. Menilik memiliki makna melihat dengan sungguh-sungguh, mengamat-amati, memeriksa, mengawasi, memandang, melihat (meninjau), dan menjenguk. Budaya Tilik dapat berupa aktivitas menjenguk orang sakit, mengunjungi bayi yang baru lahir, mengunjungi saudara atau teman yang kembali dari menunaikan ibadah haji, serta takziah ke tempat orang yang meninggal, dengan tujuan memperkuat dan menjaga tali silaturrahmi.
Setiap budaya selalu mengajarkan nilai-nilai tertentu, demikian juga budaya Jawa yang biasanya mengajarkan nilai-nilai kerukunan, kejujuran, hormat, tepo sliro, sopan santun, eling lan waspodo, sabar sareh narimo, tulung tinulung atau tolong menolong, andhap ashor, prasojo dan sebagainya (Lestari, 2016). Perilaku riil merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat karena sejatinya nilai akan memberi arah seseorang dalam berperilaku dan mengambil keputusan. Salah satu nilai masyarakat Jawa yang paling menonjol adalah tulung tinulung atau tolong menolong. Manifestasi nilai tersebut tampak dalam berbagai kegiatan sosial, salah satunya kegiatan Tilik yang mana dalam kegiatan ini masyarakat biasanya ikut membantu baik tenaga, psikis, maupun materi.
Tolong menolong juga sangat dianjurkan dalam Agama Islam, seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah (5): 2 yang artinya: “…dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”. Tulung tinulung juga dikenal dengan istilah prososial. Prososial merupakan perasaan, tanggungjawab, dan perhatian seseorang kepada kesejahteraan orang lain dalam hal ini terdapat kerjasama dan pengabdian pada orang lain. Karakteristik nilai prososial ini diantaranya adalah adanya sharing (berbagi), caring (peduli), teamwork (kerjasama tim), perhatian serta tenggungjawab terhadap sesama manusia (Lim, 2007).

