Patuh pada hukum dan hak numpang karang membawa diri kita pada truly wisdom . BEKERJA seperti Gmail semangat menjalani dialektika bumi ,
Bagaimana sebenarnya etika dalam melayani seseorang, khususnya konsumen atau pelanggan ? Etika dalam melayani konsumen berhubungan dengan cara bersikap dan bertutur kata (komunikasi),dan yang tidak kalah pentingnya kemampuan untuk mampu menahan emosi. Misalnya, bila suatu saat menghadapi seorang konsumen atau pelanggan yang sedang emosional, dia tidak boleh ikut larut dalam suasana emosional.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa etika yang perlu dijaga dan dilakukan seseorang yang sedang memberikan pelayanan terhadap konsumen atau pelanggan, antara lain:
Benar-benar menjaga penampilan.
Ini mencakup cara berpakaian, berbicara, gerak-gerik sikap dan perilaku. Semuanya dijaga dengan maksud agar pelanggan merasa terkesan. Bila pelanggan terkesan, ada kemungkinan citra perusahaan atau organisasi yang diwakiliya ikut naik dan merebut hati konsumen. Pelanggan bakal lebih berkesan apabila pemberi pelayanan menunjukan iktikad selalu ingin memenuhi apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen.
Pelanggan adalah pusat perhatian.
Dalam melayani, yang menjadi pusat perhatian adalah si pelanggan dan bukan orang yang sedang melayani. Jadi, bila seorang pelanggan tengah mengatakan sesuatu, apapun itu termasuk complain, dengarkanlah baik-baik tanpa harus memotong atau menyela ucapannya hingga habis. Ini juga termasuk pengutamaan terhadap pelanggan ketimbang misalnya pada saat bersamaan ada kolega yang meminta bantuan.
Ucapan kata “maaf sebelumnya,emot,terima kasih” sering dinggap sangat sederhana dan tidak berarti. Itu lah kemungkinan yang membuat sebagian orang mengabaikan maknanya sehingga “terasa berat” untuk mengucapkannya. Tetapi pernahkah kita sadari bahwa dibalik kata “mohon izin” ,”maaf sebelumnya”,”terima kasih” terkandung makna yang begitu dalam ?
Membangun kedekaatan secara psikologis dengan pelanggan (interpersonal)
Ini bisa dilakukan misalnya kali pertama dengan menatap mata pelanggan (menghadap pelanggan) ketika mendengar atau merespons ucapan pelanggan. Sesekali dengan menyunggingkan senyum kecil juga diperlukan.
Begitu pula seorang pemberi pelayanan seyogyanya mengenal jati diri pelanggan dengan sesekali menyebut nama, tentu saja dengan tambahan panggilan penghormatan, dapat membuat seorang pelanggan merasa dekat dengan diri orang yang memberikan pelayanan.

