Isu gender masih saja terus diperbincangkan, bahkan mungkin belum menemukan titik terang. Apalagi sistem kesehatan yang masih saja memegang sikap yang didominasi oleh homophobia dan transphobia. Sebelum membahas lebih jauh terkait isu gender, sebenernya apa sih homophobia dan transphobia itu?
Homophobia adalah ketakutan atau kebencian terhadap individu homoseksual. Artinya, adanya intoleransi dan ketakutan yang irasional terhadap pria/wanita yang homoseks. Nah, kalo transphobia adalah perasaan jijik terhadap individu yang tidak sesuai dengan harapan gender di masyarakat. Selain perasaan jijik, sebenarnya ada juga ketakutan, kebencian, dan ketidakpercayaan. Perasaan-perasaan itu ditujukan kepada orang yang transgender, berpikir untuk menjadi transgender, atau mereka yang ekspresi gendernya tidak selaras dengan gender roles biasa (tradisional). Biasanya transphobia ini merujuk pada diskriminasi, misalnya ditolak kerja karena transgender. Hmm, bahaya juga, ya.
Lebih bahaya lagi diskriminasi ini bisa menyebabkan tindak kekerasan, loh! Di Indonesia sendiri sebanyak 89,3% LGBT pernah mengalami kekerasan, dan bullying pada anak-anak karena orientasi seksual, identitas gender, atau ekspresi gender yang ditampilkan. Tercatat juga bahwa transgender male to female (waria) lebih rentan terhadap kekerasan fisik dan psikis. Padahal, kekerasan itu dapat menyebabkan trauma sehingga memberikan efek seperti mengalami fenomena intrusif (kilas balik dan mimpi buruk), selalu menghindari pemicu trauma, dan adanya perasaan serta suasana hati yang negatif (APA, 2013).
Toxic masculinity adalah suatu kepercayaan bahwa seorang laki-laki adalah gender yang harus melebihi perempuan. Menurut Edward (2020) konsep maskulinitas ini bisa menjadi toxic ketika maskulinitas “digunakan” laki-laki dengan cara yang dapat merusak lingkungannya, seperti adanya kekerasan, dominasi, keserakahan, kebencian terhadap wanita, dan homophobia. Bahkan, di masyarakat sendiri ciri dari adanya toxic masculinity ini dapat terlihat (Fidriyogi, 2022), di antaranya :
A. Adanya pandangan bahwa laki-laki tidak boleh mengeluh dan menangis.
B. Laki-laki digambarkan sebagai sosok yang kasar, agresif, dan mendominasi terhadap orang lain.
C. Adanya anggapan bahwa perilaku berbahaya dan beresiko itu keren.
D. Adanya pandangan bahwa pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, mengepel, dan sebagainya itu hanya pekerjaan perempuan, laki-laki tidak harus melakukannya.

