Self-diagnose ialah mendiagnosis atau mengidentifikasikan syarat medis dalam diri seorang. Self-diagnose tidak hanya terjadi pada kesehatan fisik tetapi pula terjadi di kesehatan mental, yang intinya lebih sulit buat dipandang karea bentuknya yang tersirat. Self-diagnose ini merupkan bentuk rasa keingintahuan orang tentang ‘apakah ada yang salah dengan dirinya’. sehingga banyak orang melakukan self-diagnose melalui banyak sekali media.
Mendiagnosis diri sendiri merupakan menetapkan kita mempunyai penyakit berdasarkan pengetahuan yg dimiliki atau setelah membaca berita yg berkaitan dengan keluhan tadi. Orang yg terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara hiperbola diklaim cyberchondria (White & Horvitz, 2009). namun sering info yang tersedia di laman tadi tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence based medicine (EBM) (besar , 2019).
di sebuah penelitian psikologi pada India, self-diagnose pada psikologis memiliki efek negatif yang dapat dikelompokkan berdasarakan cognitive effect, affective effect, serta behavioural effect, serta pengaruh positif pula.
Cognitive effect
1. dampak primer yg dihasilkan asal self-diagnose di kognitif kita adalah menciptakan keadaan kebingungan dimana subjek tak yakin apakah beliau sahih-sahih mempunyai gangguan tersebut (Ahmed & Stephen, 2017) saat berkepanjangan hal ini bisa membangun kewaspadaan yang tinggi sehingga mereka tidak berperilaku ‘bergejala’.
2. pengaruh dominan lainnya yaitu berupa ketidakmampuan buat fokus/ berkonsentrasi yang hal ini dapat mensugesti akademis seorang (Ahmed & Stephen, 2017) terutama bagi pelajar
tiga. efek krusial lainnya yaitu persepsi diri tentang abnormal. Ini pula menyedihkan waktu mereka mulai berpikir bahwa mereka tidak normal serta khawatir ihwal itu (Ahmed & Stephen, 2017)
4. efek kognitif terakhir yg diturunkan ialah persepsi mobiditas, bahwa beliau mempunyai gangguan dan tidak dapat disembuhkan. Jika berkelanjutan ini dapat mengarahkan kita di keputusasaan. (Ahmed & Stephen, 2017)

