Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Bisakah Kita Bahagia Tanpa Syarat?

Home > Artikel Baru > Bisakah Kita Bahagia Tanpa Syarat?

Bisakah Kita Bahagia Tanpa Syarat?

Posted on 24 September 2022 by admin
0

Tetapi pada kenyataannya berbeda. Otak manusia membutuhkan alasan untuk merasakan sebuah perasaan. Termasuk perasaan bahagia.

Setiap hari kita banyak memikirkan kebahagiaan yang muluk-muluk. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali keinginan. Seolah tidak ada habisnya keinginan kita.

Nonton YouTube, skrol sosial media, Instagram, Twitter, Tiktok. Lanjut Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee, Alibaba, dan kawan-kawannya. Semakin menambah jumlah keinginan kita.

Semakin lama menatap layar gawai. Menambah gejolak keinginan meluap-luap. Semakin kita merasa tidak punya apa-apa. Rumput tetangga semakin terlihat lebih rindang.

Sayangnya internet mendukung penuh keinginan kita.

Kita mulai merasa iri, dengki dan merasa tersaingi. Sebagai manusia normal kita tidak mau dicap kuno dan ketinggalan zaman.

Kita mulai merencanakan untuk memenuhi semua keinginan kita. Meskipun terkadang membuat kita lupa kebutuhan hakiki yang sebenarnya.

Oh rasa iri, kenapa engkau begitu menggoda iman. Tidak bisakah engkau pergi jauh-jauh. Aku ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang keinginan macam-macam.

Hidup ini memang bagaikan surga. Penuh dengan kenikmatan, hayalan dan harapan tanpa batasan.

 

Andaikan bisa mengutak-atik perasaan kita seperti bermain Tetris. Mungkin kita tidak akan sebingung ini dalam menentukan keinginan mana yang harus ditunaikan terlebih dahulu.

Masalahnya perasaan kepengen yang begitu kuat telah merenggut ketenangan batin. Pikiran logis terkalahkan dan yang menang adalah nafsu untuk memiliki segala hal yang ada di muka bumi. Kalau perlu pergi ke Mars. Keliling angkasa. Liburan ke Bulan. Masuk ke lubang hitam, The Black Hole.

Manusia hanya akan bisa dengan mudah meraih bahagia jika syarat dan ketentuan yang berlaku terpenuhi. Semakin runyam syarat dan ketentuan yang kamu buat untuk kebahagiaanmu sendiri. Semakin berat jalan yang kau tempuh menuju hidup bahagia.

Rumah mewah, kalau bisa lantai tiga. Harus punya villa, kalau liburan biar tidak perlu nyewa. Kebanyakan duit, bangun hotel bintang lima. Masih banyak dana, keliling dunia sampai pelosok Afrika. Tidak kenal tetangga sebelah, tidak masalah. Asalkan di media sosial tampak bagaikan bangsawan bergelimang harta yang seolah tidak ada habisnya.

Karir mentereng, saham bejibun, rekening sekebon, beli klub sepakbola. Punya nama tenar, reputasi sangar, nyalon jadi wakil rakyat di pemerintahan. Apadaya sudah tidak perlu kerja, uang mengalir deras bagaikan air terjun dari surga. Profil mengalir dari deposito cukup untuk memberi makan orang sekecamatan. Saatnya mencari jabatan, kewibawaan dan pamor kedigdayaan.

Mau sampai kapan, biarkan lautan yang menjawabnya.

Sekarang adalah sekarang. Besok adalah besok. Hari ini keinginan harus terpenuhi.

Pokoknya harus.

Nah loh. Kalau sudah begini. Mau bagaimana lagi.

Buat orang biasa hanya bisa pasrah dan menonton dari layar kaca televisi. Orang berduit joged-joged dibayar. Orang miskin tinggal menertawakan dari rumah petakan.

Menurut saya, bahagia tanpa syarat itu omong kosong. Kalau mau jujur. Setiap kebahagiaan itu ada syaratnya. Maka dari itu, kalau pengen mudah meraih bahagia. Kita bisa membuat syarat dan ketentuan yang simpel. Agar, kita bisa bahagia dengan lebih mudah, murah dan terjangkau.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds