Saya pernah marah, jika tidak mau dibilang sering marah. Mungkin bila teman-teman dekat saya diminta mendefinisikan saya, maka mereka pasti akan menyebut “pemarah” sebagai salah satu sifat khas saya.
Baiklah, ini memang bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan. Saya memberi tahu ini untuk menggambarkan betapa sifat pemarah begitu mengakar di dalam diri saya.
Tetapi saya tidak ingin sifat pemarah ini terus bersama dengan saya.
Terakhir kali saya marah besar kepada seseorang, saya menyesalinya. Diam-diam saya merasa tidak sepatutnya saya berbuat dan berkata sekasar itu kepada orang lain, dan saya yakin tindakan saya saat marah saat itu telah melukai hatinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata-kata kasar penuh amarah yang saya lontarkan tidak bisa saya ambil kembali. Daripada saya meratapi bubur itu, lebih baik saya tambahkan cakwe, seledri, dan suwiran daging ayam untuk membuatnya lebih bisa diterima.
Saya belajar menerima fakta bahwa saya adalah seseorang yang sulit mengendalikan emosi marah. Atas semua kemarahan yang pernah saya lakukan di masa lalu, saya menyesalinya dan telah memaafkan diri. Sekarang tugas saya adalah membuat penyesalan dan kesalahan itu menjadi sebuah pembelajaran untuk menjadi individu yang lebih baik.
Mengenali Amarah dari Sudut Pandang Psikologi
Amarah merupakan salah satu emosi dasar manusia. Artinya, semua orang di berbagai belahan dunia memiliki emosi marah. Bedanya, ada yang mampu mengendalikannya, ada yang justru dikendalikan oleh amarah itu. Dari sudut pandang psikologi, marah bukanlah sesuatu yang harus selalu kita tekan atau tutup-tutupi, sebab amarah bisa jadi merupakan pesan dari dalam sistem mental kita untuk diri kita sendiri. Emosi marah sebenarnya sinyal untuk memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang tidak benar, dan kita harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Misalnya, kita merasa marah saat ada seseorang yang menyakiti anggota keluarga kita dan tidak meminta maaf; emosi marah itu memberi tahu kita bahwa kita perlu melindungi anggota keluarga kita dari tindakan buruk orang lain.
Tetapi jangan salah paham dulu, ini bukan berarti kita harus membiarkan amarah keluar begitu saja dan mengekspresikannya setiap saat. Jadikan amarah sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja, tetapi setelah itu, jangan biarkan amarah itu mengendalikan kita. Sebaliknya, kita harus mengendalikan amarah itu, sembari menangkap pesan yang hendak disampaikan dan bertindak dengan kepala dingin.

