Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Apakah Disgust dan Shame pada Anak Usia Dini Akibat dari Kurangnya Stimulus yang Diberikan oleh Orang Tuanya?

Home > Artikel Baru > Apakah Disgust dan Shame pada Anak Usia Dini Akibat dari Kurangnya Stimulus yang Diberikan oleh Orang Tuanya?

Apakah Disgust dan Shame pada Anak Usia Dini Akibat dari Kurangnya Stimulus yang Diberikan oleh Orang Tuanya?

Posted on 22 October 2022 by admin
0

Disgust itu apa sih? Apakah kalian pernah mendengar kata tersebut? Yuk simak penjelasan dibawah ini.

Disgust atau kata lain dari jijik. Disgust atau jijik ini merupakan emosi yang muncul akibat dari bau sesuatu yang dibenci, tekstur yang membuatnya tidak nyaman, serta penampilan. Disgust atau jijik ini juga merupakan emosi yang kompleks serta tidak seperti biasanya.

Disgust atau jijik ini sering sekali di klasifikasikan dalam emosi dasar. Disgust sendiri memiliki sebuah jangkauan yang cukup luas sehingga muncul teori fungsional untuk bersaing dan lintasan perkembangan yang berlarut-larut.

Terdapat 6 emosi dasar yang mengklasifikasikan disgust ini kedalamnya. Jijik umumnya diklasifikasikan sebagai salah satu dari enam emosi dasar; itu diklaim memiliki fungsi adaptif yang unik, substrat saraf khas menghasilkan fenomenologi yang tak ada bandingannya, dan ekspresi wajah karakteristik yang diakui dalam budaya yang berbeda di seluruh dunia (Ekman, 1992; Izard, 1994).

Selain itu, ada juga yang mengklaim bahwa rasa jijik dicirikan sebagai suatu perasaan ataupun dorongan dasar. Sehingga mungkin akan lebih mirip dengan keadaan seperti lapar atau sakit daripada emosi sejati seperti marah ataupun takut.

Seperti contoh: Ketika Shakila bermain tanah dengan ayahnya tidak sengaja dia ternyata memegang seekor cacing ketika dia memegang tanah. Dengan spontan Shakila berteriak dikarenakan dia merasa jijik bersentuhan dengan cacing tersebut. Dengan adanya rasa jijk itu otomatis muncul perasaan takut.

Dari kejadian tersebut dapat dilihat bahwa suatu respon manusia terhadap disgust atau jijik ini biasanya akan berusaha menjauhkan dirinya. Sebuah penelitian ilmiah terhadap disgust atau rasa jijik telah mengidentifikasi beragam fungsi emosi yang diteorikan. Banyak sekali teori yang memberikan ciri disgust atau rasa jijik ini sebagai hal yang berasal dari pertimbangan konseptual. Disgust atau rasa jijik ini tidak diharapkan oleh semua orang ketika dia dilahirkan.

Disgust atau rasa jijik ini muncul ketika adanya proses defensif selama beberapa tahun pertam kehidupan. Ketika seseorang merasakan disgust atau jijik ini, maka dia akan memunculkan reaksi dengan berubahnya mimic pada wajah, menghindari hal yang menjijikan tersebut, berteriak, dan kemudian juga melakukan gerakan pertahanan diri. Rasa jijik terhadap seseorang akan menghambat luasnya pengetahuan serta khidupan seorang anak.

Dengan begitu, adanya rasa jijik peru dikendalikan serta dihilangkan kecuali ada alasan tertentu dan juga niat baik seperti jika ada resiko terkena penyakit. Semua harus berawal dari pola asuh orang tua terhadap anaknya. Dimana sebenarnya tidak semua hal itu menjijikkan. Maka dengan ini, diharapkan orang tua memberikan stimulus serta pola asuh kepada anak usia dini agar anak tumbuh tidak menjadi individu yang selalui merasa jijik dengan hal baru.

Diatas sudah membahas mengenai disgust, maka disini kita akan membahas tentang shame. Shame atau malu merupakan suatu emosi dimana seseorang merasa dirinya rendah, hina, tidak senang, bisa juga karena keadaan fisik yang mengalami kecacatan. Menurut Tangney (1999) shame adalah emosi menyakitkan yang biasanya disertai perasaan menjadi kecil, tidak berharga, serta ketidakberdayaan. Shame ini akan dirasa menyakitkan serta berdampak negative pada penderitanya.

Dalam psikologis diartikan bahwasannya shame atau rasa malu ini akan muncul dengan emosi dari ketidaksadaran pada suatu yang menggelikan, tidak pantas, emosi terhadap perilaku atau keadaan diri dari seseorang. Sikap malu dan pemalu merupakan suatu hal yang berbeda. Dimana sikap pemalu ini adalah keadaan yang sudah terpola, berbeda dengan malu yang terjadi ketika keadaan tertentu.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds