Akhir-akhir ini saya sedang menggandrungi tulisan-tulisan dari Carl Gustav Jung, seorang psikolog bermazhab psikoanalisa yang terkenal akan teori arketipenya itu.
Buku-buku karyanya seperti Psikologi dan Agama, Empat Arketipe, dan Diri yang Tak Ditemukan sedang sibuk saya baca.
Dan saat saya membaca bukunya yang berjudul Empat Arketipe, saya agak kaget tentang analisisnya dari Al-Qur’an Surat 17 yakni surah Al-Kahfi. Lebih mengejutkan lagi bahwa beliau menuliskannya dalam satu subbab tersendiri dari banyak analisisnya di buku tersebut.
Memang tidak terlalu mengejutkan jika kita tahu bahwa sebenarnya Jung juga banyak mengambil simbolisasi banyak agama guna mendukung konsep Arketipe-nya, namun sampai membahas suatu analisa dari agama tertentu dalam satu subbab sangat mengejutkan menurut saya.
Entah ini mungkin karena saya overproud kepada agama sendiri atau memang hal ini benar-benar unik dan harus diulik.
Analisis Jung tentang surah Al-Kahfi sebenarnya berkaitan dengan salah satu konsep Arketipe-nya tentang kelahiran kembali dimana ketidaksadaran yang berisi segala macam nilai-nilai spiritual terkoneksi dengan kesadaran sehingga merubah kepribadiannya dan membuat individu tersebut menjadi “terlahir kembali” secara psikis dan spiritual.
Ada tiga kisah yang dianalisis Jung dalam surah Al-Kahfi ini yakni 7 pemuda Ashabul Kahfi, perjalanan Nabi Musa A.S. dengan Nabi Khidir A.S.. dan pembentengan Yakjuj dan Makjuj oleh Zulkarnain.
Tujuh Pemuda Ashabul Kahfi
Dalam surah Al-Kahfi memang paling identik dengan para pemuda Ashabul Kahfi yang tidur di dalam goa karena dikejar raja yang lalim dan kafir.
Setelah mereka bangun ternyata waktu sudah berlalu selama 309 tahun dan raja yang lama telah digantikan oleh raja yang shalih. Oleh karena itu surah ini diberi nama Al-Kahfi yang artinya goa, merujuk pada tempat para pemuda ini bersembunyi dan tidur.
Goa ini menurut analisis Jung merupakan simbolisasi tempat terdalam bagi kita untuk diperbarui dan terlahir kembali. Sedangkan tidur sendiri merupakan simbol dari masuknya kita dalam alam ketidaksadaran dan interaksinya yang dapat merubah kepribadian.
Sedangkan waktu yang berlalu sangat panjang merupakan tanda keabadian spiritual dimana individu yang bertransformasi ini memiliki umur panjang.
Jung memang sering memakai simbolisasi dari berbagai kebudayaan dan kepercayaan untuk menjelaskan konsep Arketipe-nya.
alam kaitannya tentang transformasi atau kelahiran kembali ini kita dapat temukan gambarannya secara jelas dari analisisnya mengenai surah Al-Kahfi.
Perjalanan Nabi Musa A.S dan Nabi Khidir A.S.
Selanjutnya Jung menjelaskan analisisnya mengenai kisah perjalanan Nabi Musa dan pembantunya guna menemui Nabi Khidir untuk belajar dengannya.
Kisah dimulai saat pembantu Nabi Musa yaitu Yusya bin Nun tak sengaja melepaskan ikan yang ditangkapnya untuk bekal diperjalanan ke sebuah tempat pertemuan dua laut.
Dan saat Nabi Musa menayakan ikan tersebut pembantunya lupa mengingatkannya dan Nabi Musa ingat bahwa tempat itulah yang dia cari.
Lalu saat tiba di tempat pertemuan dua laut itu mereka bertemu dengan Nabi Khidir dan akhirnya Nabi Musa menyampaikan maksudnya untuk berguru dengannya.
Nabi Khidir berkata bahwa Nabi Musa tidak akan tahan bersamanya. Namun Nabi Musa menyanggupinya dan tidak akan protes apapun perbuatan Nabi Khidir.
Dalam perjalanan mereka, Nabi Khidir meminjam perahu dari nelayan miskin untuk mereka naiki dan di tengah laut Nabi Khidir melubangi perahu tersebut dan saat sampai di daratan kapal itu tenggelam.
Nabi Musa protes akan hal itu tapi Nabi Khidir telah mengingatkannya dari awal agar jangan protes jika dia ingin mengikutinya. Akhirnya Nabi Musa minta maaf dan melanjutkan perjalanan dengan Nabi Khidir.

