Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

3 Kasus Kesalahpahaman Gen-Z tentang Mental Health dan Psikologi

Home > Artikel Baru > 3 Kasus Kesalahpahaman Gen-Z tentang Mental Health dan Psikologi

3 Kasus Kesalahpahaman Gen-Z tentang Mental Health dan Psikologi

Posted on 12 May 2022 by admin
0

Setiap generasi pasti punya ciri khas masing-masing tergantung pada zaman mereka dibesarkan. Generasi Z yang dilahirkan pada kurun waktu 1996-2012, memang sering dikaitkan dengan pemuda yang melek teknologi, inovasi, dan juga yang amat disayangkan sering melakukan kesalahpahaman terhadap beberapa hal-hal psikologi, terutama  yang berkaitan dengan mental health dan sejenisnya. Memang kita tahu bahwa semakin gencarnya penyebaran informasi membuat banyak orang khususnya Gen z ini, ingin selalu mengerti terhadap segala informasi. Dan tentu dalam informasi di bidang psikologi mereka juga harus ingin selalu mengerti dengan segala seluk-beluknya.

Memang bagus sih belajar psikologi untuk mengerti dan mengembangkan diri, namun banyak dari Gen-z ini sering mengambil sepotong-sepotong informasi psikologi ini dan hanya mengambil apa yang menguntungkan mereka saja, khususnya yang bisa menutupi mental tempe mereka. Seperti yang beberapa waktu ini terjadi, yakni ada seorang anak Gen-z yang pergi potong rambut ke salon lalu dia merasa di-Gaslighting oleh hairdresser disana yang berkata bahwa rambutnya kering.

Padahal si hairdresser ini hanya berkata apa adanya dan dengan tata bahasa yang sopan yakni “rambutnya kering ya kak”, dan tanpa tambahan menghina dan men-judgemental  seperti “rambutnya kering ,abis mulung ya kak”, atau “Kakak nggak pernah mandi berapa tahun? kering banget rambutnya!”.

Sebelum kita menghujat para Gen z ini memang ada baiknya meluruskan kekeliruan mereka terlebih dahulu.

1.Gaslighting oleh hairdresser

Kita mulai terlebih dahulu dari kasus yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Perihal berkata rambut kering kepadanya bisa dimaknai gaslighting dan saya rasa pemahaman dia yang merasa di-gaslighting ini, tentang makna sebenarnya apa itu gaslighting sudah tidak utuh.

Saya paham bahwa dia berpendapat bahwa segala sesuatu yang orang lain perbuat dan tidak berkenan dengannya dia maknai sebagai gaslighting. Hal tersebut bisa dilakukan karena ingin terlihat benar dan juga tidak ketinggalan zaman walaupun salah pada dasarnya.

2.Healing 6 bulan Seorang Mahasiswa Baru

Sebelum kasus gaslighting ini juga pernah ada kasus seorang mahasiswa baru yang mengeluhkan butuh healing karena penat tugas kuliah yang baru jalan satu semester dan ingin mengajukan cuti selama 6 bulan guna healing-nya, yang pada akhirnya tentu saja dilarang orang tuanya. Kalau tidak salah hal ini ramai diperbincangkan di Twitter dengan berbagai balasan dan cuitan yang mana pasti menghujat si mahasiswa baru ini.

3.Sering self-diagnose dari Sumber yang Tidak Jelas

Dalam hal kesehatan mental dan psikologis, self-diagnose adalah hal yang sangat fatal bagi orang yang melakukannya. Mendiagnosis diri dari banyak informasi mengenai penyakit mental dan juga berbagai hasil tes psikologi yang tidak jelas asal-usulnya membuat orang yang melakukannya dapat merasa sakit mental padahal dia baik-baik saja dan bahkan juga sebaliknya.

 

 

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds