Pasti kita semua pernah mengalami keterpaksaan entah itu saat belajar, bersih-bersih rumah, bekerja, dan lain-lain. tapi terasa atau tidak, hal tersebut lambat laun menjadi sebuah kebiasaan atau habit bagi kita. Terus kenapa sih harus terpaksa dulu? Jadi tidak harus terpakasa terlebih dahulu sebenarnya, tergantung bagaimana kita menyikapi. Tetapi meskipun tidak ada pakasaan dari luar diri kita, untuk menumbuhkan suatu keterbiasaan dibutuh kan konsistensi dari diri kita sendiri. Dari sanalah setidaknya kita butuh sedikit memaksa diri kita untuk bisa konsisten. Karena tidak mudah untuk menumbuhkan konsistensi, diperlukan kemauan dan sedikit keterpaksaan dari dalam diri kita.
Terus apa hubungannya dengan belajar? Jadi, dalam teori belajar ada yang namanya teori belajar yang beraliran behavioristik dan dalam teori tersebut terdapat cabang teori belajar asosiatif. Dikatakan oleh Iwan Pavlov bahwa pembentukan perilaku dimulai dari kondisioning atau kebiasaan. Dalam eksperimennya beliau mencontohkannya dengan seekor anjing, pada awalnya anjing tidak berliur ketika mendengar suara bel akhirnya setelah dilatih berulang kali dengan prosedur yang dibuat olehnya, anjing dapat berliur disaat hanya mendengar suara bel. Jangan salah persepsi terlebih dahulu, teori tersebut bukan buat hewan kok. Jadi beliau hanya saja bereksperimennya menggunakan hewan. penerapan pada manusia misalnya pembiasaan anak mencuci kaki sebelum tidur dan menerima sesuatu dengan tangan kanan. Jadi, dari hal di atas dapat disimpulkan yaitu butuh pembiasaan untuk pembentukan perilaku atau karakter dan dibutuhkan sedikit penekanan(paksaan) dalam artian kedisiplinan agar hal diharapkan dapat terwujud.

