Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Perlukah Mencintai Diri Sendiri?

Home > Artikel Baru > Perlukah Mencintai Diri Sendiri?

Perlukah Mencintai Diri Sendiri?

Posted on 14 September 202214 September 2022 by admin
0

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata ‘cinta’? Pasti beberapa dari kalian bakal memikirkan hal – hal yang berbau romantis atau puitis seperti itu kan. Kayak contohnya nih, “Si A ini kira – kira suka gak ya sama aku?” atau gini “Ada gak ya orang yang suka sama aku?” Tapi pernah gak kalian berpikir bahwa sebenarnya mencintai itu bisa dimulai dari mencintai diri kita sendiri?

Mencintai diri sendiri atau yang sering dikenal sebagai self-love bisa diartikan sebagai sebuah keadaan dimana kita bisa memberikan apresiasi diri ketika mampu bertindak ke arah yang mendukung perkembangan fisik, psikologis, dan spiritual diri. Contohnya adalah dengan mulai menerima kekurangan dan kelebihan, memiliki rasa kasih sayang terhadap diri sendiri, lebih fokus terhadap tujuan hidup yang dimiliki, serta hidup secara puas melalui usaha yang telah dilakukan (Khoshaba, 2012). Menurut psikolog Deborah Khoshaba Psy.D, self-love adalah keadaan apresiasi terhadap diri sendiri yang bersifat dinamis, yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual kita—tindakan yang membuat kita dewasa (Psychology Today, 2012).

Sementara itu, psikolog Margaret Paul Ph.D mengartikan mencintai diri sendiri sebagai perilaku memahami nilai sebenarnya dalam diri, tentang apa yang sebenarnya ada di dalam diri, bukan menilai diri berdasarkan penampilan fisik atau performa diri. Mencintai diri sendiri adalah tentang penerimaan diri, penguasaan diri, penghargaan terhadap diri,  dan rasa hormat kepada diri sendiri.

Mencintai diri sendiri juga bisa didefinisikan sebagai kepercayaan diri sendiri dan keyakinan tentang bagaimana orang lain menganggap diri kita. Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan apakah orang lain menyukai atau mencintai kita. Padahal hal itu bisa kita mulai dari mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu. Saat kita bisa mencintai diri kita sendiri kita akan lebih mudah menerima keadaan sekitar.

Kurangnya mencintai diri sendiri dapat meningkatkan berbagai resiko negatif. Permasalahan mental seringkali kita jumpai pada orang orang yang kurang bisa memahami diri mereka sendiri. Mereka akan selalu menganggap bahwa perkataan orang lain tentang mereka adalah suatu hal mutlak yang harus mereka lakukan. Kebiasaan orang orang pada masa kini salah satunya adalah sering membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain. Yang mana sebenarnya diri kita dan mereka itu sudah jelas merupakan hal yang berbeda.  Tapi hal itu tumbuh daripada kebiasaan, dimana pada salah satu tahap kehidupan ini kita pernah diberitahu untuk mencontoh sesuatu dari orang lain. Tapi terkadang, cara orang lain memberitahu kita itu kurang tepat.

Mereka biasanya akan mengatakan kalimat seperti ini ‘lihat tuh anak tetangga bisa jadi juara kelas, masa kamu ga bisa gitu juga sih?’. Hal seperti ini otomatis akan menurunkan tingkat kepercayaan diri kita sehingga kita pasti akan merasa tertekan dalam jangka waktu tertentu. Ini bisa diatasi dengan tindakan lebih memahami lagi bahwa kemampuan diri kita tidak melulu ada di satu bidang saja. Istilahnya kita semua pasti mempunyai bakat terpendam, yang apabila itu di kembangkan dengan sungguh sungguh bisa menjadikan hal itu keunggulan dari diri kita.

Kita pasti sering merasa insecure dengan berbagai kekurangan dalam diri kita. Tapi, apa pernah kalian berpikir untuk berdamai dengan hal itu? Dengan meyakinkan diri sendiri bahwa kita sudah menerima keadaan diri kita, akan menimbulkan rasa lega di hati lantaran beban tersebut sudah kita kurangi dengan sendirinya. Hal ini tentu dapat mengurangi berbagai faktor negatif yang dapat memicu gangguan mental dan sejenisnya.

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa depresi, keputusasaan, dan harga diri yang rendah adalah hal yang memicu berbagai permasalahan pada diri kita sendiri. Maka dari itu, penting untuk mulai mencintai diri kita sendiri demi menghindari hal hal tersebut dikemudian hari.

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds