Sebagai onty-onty yang menyukai anak kecil, saya selalu merasa berdekatan dan berkomunikasi dengan mereka adalah sesuatu yang menarik, khususnya anak-anak di bawah usia tiga tahun, dimana kecakapan mereka dalam berbicara demi mengkomunikasikan apa yang mereka pikirkan dan atau yang mereka rasakan memiliki keterbatasan untuk dipahami oleh orang dewasa.
Jika merujuk pada klasifikasi hak-hak anak yang diuraikan oleh Psikolog Samantha, boleh jadi pada tahapan ini saya katakan seorang anak sedang berusaha mendapatkan haknya untuk belajar, meski mungkin pada uraian saya pada tulisan ini nantinya akan masuk pula poin hak-hak yang lain dari yang beliau katakan tadi.
Sudah seperti menjadi tugas “wajib” orangtua di seluruh dunia mengajarkan anaknya berkomunikasi bahkan sejak si anak masih bayi—sekalipun kita tahu bahwasanya si anak hanya merespon dengan tatapan sekadarnya (baca: dengan kata lain tanpa mampu merespon dengan baik seperti seharusnya sebuah percakapan), kita terkadang tak henti-hentinya mengajak mereka bicara—alih-alih kita melakukan itu karena kita menganggap mereka lucu dan menggemaskan.
Namun, ada kalanya rutinitas sehari-hari atau deadline pekerjaan yang membuat kedekatan (intensitas) orangtua seperti kita dalam memperhatikan tumbuh kembang anak berkurang—atau malah menganggap mereka sudah tumbuh normal sebagai mana mestinya?—dalam hal berbicara.
Tak heran pada akhirnya ilmu parenting itu penting.
Karena kecakapan kita sebagai orangtua dalam mengasuh seorang anak tidak hanya berbicara soal perjalanan waktu atau biaya (baca: yang akan atau yang sudah dikeluarkan) yang sengaja kita sisihkan demi mereka;.
Mengasuh anak tak cukup perkara kesiapan dari segi seksual, mental, dan finansial sebelum kita menikah, tetapi juga tentang keterlibatan emosi kita yang harus secara sadar bahwa apa yang kita berikan pada merekalah yang menjadikan siapa diri mereka pada hari ini dan diri mereka di masa-masa yang akan datang.

