Sebagai seorang manusia biasa, kita pasti tentu sering berekspektasi tentang sesuatu yang kita inginkan untuk didapatkan, dirasakan, atau dimiliki. Apakah ini wajar? Ya. Ini adalah naluri manusia untuk terus berkembang menuju ke arah yang dianggap baik agar memperoleh kualitas hidup yang meningkat pula.
Akan tetapi, terkadang kira rapuh dengan ekspektasi atau harapan yang kita buat sendiri. Hal ini bermula ketika kita menjadikan ekspektasi sebagai sebuah tujuan atau hasil akhir. Saat hal itu terjadi, kita menjadi seorang pembunuh untuk diri kita sendiri. Memang terdengar ekstrem, tapi begitulah kenyataannya. Kita menjadi pembunuh untuk diri sendiri karena telah menggantungkan hidup kita pada ekspektasi. Semakin kita bergantung padanya, maka semakin dalam rasa sakit yang kita tusukkan ke dalam dada.
Kalau begitu, apakah itu artinya kita harus hidup tanpa ekspektasi atau harapan? Bukankah hidup ini bermakna hanya ketika kita memiliki harapan? Tanpa harapan, bukankah hidup ini menjadi hampa dan tidak memiliki tujuan? Baik, kita akan jawaban pertanyaan ini satu demi satu.
Menurut paham Stoikisme, sebuah peristiwa atau barang tidak memiliki nilai apa-apa atau netral sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan kita (indifferent). Dari pernyataan tersebut, kita seharusnya mengerti bahwa segala hal di dunia ini pada dasarnya hanya hiasan atau aksesoris saja. Lantas, apa yang membuat kita begitu menginginkan/menghindari suatu peristiwa atau barang? Jawabannya adalah representasi.
Pandangan atau representasi kita terhadap peristiwa atau barang itulah yang membuat kita menginginkan atau menghindari sesuatu. Pandangan dan persepsi ini terbentuk dari nilai-nilai yang kita yakini, khususnya nilai dan norma sosial. Kita akan coba gambarkan pernyataan ini dengan sebuah contoh.
Coba kamu bayangkan, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar frasa “mobil baru”? Tentu sebagian besar dari kita akan “menempelkan” hal-hal positif terhadap frasa “mobil baru” itu. Nilai positif yang kita bentuk untuk frasa tersebut sepenuhnya persepsi dan opini kita. Padahal jika kita telaah lebih jauh, “mobil baru” bersifat netral, yaitu sebatas mobil yang belum pernah digunakan dan biasanya masih terbalut plastik pembungkus pada kursinya. Selesai, hanya sampai di situ. Tapi, karena kita memiliki nilai-nilai yang kita yakini tentang “mobil baru”, kita memasangkan persepsi positif terhadap mobil baru sebagai suatu kebanggaan, kesuksesan, kemewahan, dan sebagainya. Berkat nilai positif yang kita lekatkan tersebut, kita kemudian berpotensi “menginginkan” mobil baru dan menganggapnya sebagai suatu yang positif: jika saya punya mobil baru, maka orang lain akan menyanjung saya”. Kasus seperti ini juga terjadi pada peristiwa-peristiwa lainnya yang kita anggap sebagai sesuatu yang positif seperti prestasi, jabatan, kekayaan, dan kecantikan.

