Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Mengatur Ekspektasi dan Kekecewaan

Home > Artikel Baru > Mengatur Ekspektasi dan Kekecewaan

Mengatur Ekspektasi dan Kekecewaan

Posted on 14 April 2022 by admin
0

Sebagai seorang manusia biasa, kita pasti tentu sering berekspektasi tentang sesuatu yang kita inginkan untuk didapatkan, dirasakan, atau dimiliki. Apakah ini wajar? Ya. Ini adalah naluri manusia untuk terus berkembang menuju ke arah yang dianggap baik agar memperoleh kualitas hidup yang meningkat pula.

Akan tetapi, terkadang kira rapuh dengan ekspektasi atau harapan yang kita buat sendiri. Hal ini bermula ketika kita menjadikan ekspektasi sebagai sebuah tujuan atau hasil akhir. Saat hal itu terjadi, kita menjadi seorang pembunuh untuk diri kita sendiri. Memang terdengar ekstrem, tapi begitulah kenyataannya. Kita menjadi pembunuh untuk diri sendiri karena telah menggantungkan hidup kita pada ekspektasi. Semakin kita bergantung padanya, maka semakin dalam rasa sakit yang kita tusukkan ke dalam dada.

Kalau begitu, apakah itu artinya kita harus hidup tanpa ekspektasi atau harapan? Bukankah hidup ini bermakna hanya ketika kita memiliki harapan? Tanpa harapan, bukankah hidup ini menjadi hampa dan tidak memiliki tujuan? Baik, kita akan jawaban pertanyaan ini satu demi satu.

Menurut paham Stoikisme, sebuah peristiwa atau barang tidak memiliki nilai apa-apa atau netral sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap kebahagiaan kita (indifferent). Dari pernyataan tersebut, kita seharusnya mengerti bahwa segala hal di dunia ini pada dasarnya hanya hiasan atau aksesoris saja. Lantas, apa yang membuat kita begitu menginginkan/menghindari suatu peristiwa atau barang? Jawabannya adalah representasi.

Pandangan atau representasi kita terhadap peristiwa atau barang itulah yang membuat kita menginginkan atau menghindari sesuatu. Pandangan dan persepsi ini terbentuk dari nilai-nilai yang kita yakini, khususnya nilai dan norma sosial. Kita akan coba gambarkan pernyataan ini dengan sebuah contoh.

Coba kamu bayangkan, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar frasa “mobil baru”? Tentu sebagian besar dari kita akan “menempelkan” hal-hal positif terhadap frasa “mobil baru” itu. Nilai positif yang kita bentuk untuk frasa tersebut sepenuhnya persepsi dan opini kita. Padahal jika kita telaah lebih jauh, “mobil baru” bersifat netral, yaitu sebatas mobil yang belum pernah digunakan dan biasanya masih terbalut plastik pembungkus pada kursinya. Selesai, hanya sampai di situ. Tapi, karena kita memiliki nilai-nilai yang kita yakini tentang “mobil baru”, kita memasangkan persepsi positif terhadap mobil baru sebagai suatu kebanggaan, kesuksesan, kemewahan, dan sebagainya. Berkat nilai positif yang kita lekatkan tersebut, kita kemudian berpotensi “menginginkan” mobil baru dan menganggapnya sebagai suatu yang positif: jika saya punya mobil baru, maka orang lain akan menyanjung saya”. Kasus seperti ini juga terjadi pada peristiwa-peristiwa lainnya yang kita anggap sebagai sesuatu yang positif seperti prestasi, jabatan, kekayaan, dan kecantikan.

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds