Skip to content
INOVATIF, PROFESIONAL DAN PERKEBPRIBADIAN
facebook
twitter
youtube
instagram
linkedin
Magister Psikologi Terbaik
Call Support 082274669161
Email Support [email protected]
Location Jalan Sei Serayu Nomor 70 A
Jalan Setia Budi Nomor 79 B
  • BERANDA
  • PROFIL
    • AKREDITASI
    • FUNGSIONARIS
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • Visi Misi
  • AKADEMIK
    • Informasi Akademik
      • AKADEMIK ONLINE
      • E-Learning
    • KALENDER AKADEMIK
    • Jadwal Akademik
      • JADWAL PERKULIAHAN
      • Jadwal Ujian
      • JADWAL SEMINAR/SIDANG
    • KURIKULUM
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
  • AKTIVITAS
    • Jurnal Prodi
    • Kegiatan Prodi
  • MAHASISWA
    • Beasiswa
    • SISTEM INFORMASI
      • Data Mahasiswa
      • Blog Mahasiswa
      • Penelitian Mahasiswa
      • AOC
      • E-Learning
      • APIK
      • SAIS
      • Webmail
    • Prestasi Mahasiswa
  • DOSEN
    • Daftar Dosen
    • Dosen Penasehat Akademik
    • Blog Dosen
    • Elearning
    • Amadi
    • Webmail
  • ALUMNI
    • Tracer Study
    • Foto Wisuda
  • ARSIP
    • PEDOMAN
    • FORMULIR
    • Brosur
    • Artikel
  • Kerjasama
  • HELPDESK

Angka Tes IQ, Apakah Menjadi Patokan Tingkat Kecerdasan Seseorang?

Home > Artikel Baru > Angka Tes IQ, Apakah Menjadi Patokan Tingkat Kecerdasan Seseorang?

Angka Tes IQ, Apakah Menjadi Patokan Tingkat Kecerdasan Seseorang?

Posted on 28 March 2022 by admin
0

Jika membahas tentang inteligensi, mungkin sebagian orang awam akan mengartikan hal tersebut sebagai kecerdasan. Padahal pengertian inteligensi tidak hanya sebatas itu. Bahkan saking luasnya penggunaan kata inteligensi, para psikolog pun tidak hanya berpatokan pada satu definisi saja. Namun, yang perlu diketahui secara garis besar inti dari pembahasan inteligensi adalah bentuk kognisi yang lebih tinggi (higher-order form of cognition). Hal ini meliputi pembentukan konsep, penalaran, pemecahan masalah, kreativitas, serta memori dan persepsi yang memiliki kaitan dengan inteligensi masnusia.

Menurut Geray (2005) inteligensi adalah perbedaan seseorang dalam bereaksi terhadap waktu, waktu inspeksi, dan kerja memori yang pada kenyataannya diukur melalui tes inteligensi standar. Kemudian Howard Gardner (1985), seorang tokoh psikologi berkebangsaan Amerika mengemukakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah, atau menciptakan suatu produk dalam berbagai macam setting dan dalam situasi nyata. Maka, dari beberapa definisi inteligensi yang ada dapat disimpulkan bahwa inteligensi yang dimiliki manusia merupakan kemampuan untuk memperoleh, memanggil (recall), dan menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep abstrak atau konkret serta hubungan antara ide dan objek, juga dalam menerapkan pengetahuan dengan teapat.

  1. Teori Uni faktor
    Teoiri uni faktor dianggap teori paling tua. Psikolog bernama Alfred Binet adalah salah satu orang yang mengatakan bahwa inteligensi bersifat monogenetik. Artinya yakni berkembang dari satu faktor satuan atau faktor umum. Binet berpendapat bahwa inteligensi adalah sisi tunggal dari karakteristik yang akan berkembang seiring proses perkembangan seseorang. Binet juga memiliki gambaran tentang inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga kemungkinan orang lain dapat mengamati atau menilai tingkat perkembangan seseorang berdasarkan kriteria tertentu. Jadi, hal inilah yang dimaksud komponen arah, adaptasi dan kritik dalam definisi inteligensi.
  2. Teori Dwi faktor (The Two-Factor Theory)
    Teori ini dikembangkan oleh psikolog asal Inggris bernama Charles Spearman. Usulan Spearman yakni teori kecerdasan dua faktor yang dapat menjelaskan pola hubungan antara kelompok tes kognitif yang dianalisisnya. Teori ini menyatakan bahwa kinerja setiap tugas kognitif bergantung pada faktor umum (g) ditambah satu atau faktor yang lebih spesifik dan unik untuk tugas tertentu (s). Seluruh faktor yang spesifik akan membentuk single common factor “g” faktor. Menurut Spearman tindakan seseorang dalam setiap situasi bergantung pada kemampuan umum maupun khusus.
  3. Teori Multifaktor (Multiple factor Theory)
    Teori multifaktor ini dikembangkan oleh Edward Lee Thorndike (1916). Inteligensi menurut teori ini terdiri atas hubungan neural antara stimulus dan respon. Hubungan neural tersebut yang kemudian mengarahkan tingkah laku seseorang. Teori Thorndike menyatakan bahwa inteligensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku intelegen. Thorndike juga menyebutkan empat poin inteligensi, yakni tingkatan, rentang, daerah, dan kecepatan.

 

 

View this post on Instagram

Shared post on Time

Kaitan UMA

Kampus I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
CALL CENTER UMA : 0811-6013-888
(061) 7368012
[email protected]
Kampus II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
CALL CENTER UMA : 061-42402994
(061) 42402994
[email protected]
LOKASI KAMPUS PASCASARJANA UMA
Copyright © 2026 MPSI - Universitas Medan Area

This will close in 0 seconds