Pada tahun 1926, melalui buku yang berjudul Gifted Children: They Nature and Nurture memunculkan istilah berbakat digunakan untuk mengacu pada anak-anak yang berpotensi tinggi.
Cara kita mendefinisikan istilah bakat sangat bergantung bagaimana kita mengadopsi konsep berbakat itu sendiri.
Jika kita menggunakan gaya Galton, maka kita akan percaya bahwa bakat akan terlihat pada usia dewasa dan itu sifatnya turun temurun. Sedangkan konsep Terman membawa kita pada skor IQ di atas 140 dianggap sebagai prediktor utama bakat.
Sedangkan pandangan Hollingworth, bagaimanapun, menyebabkan definisi yang lebih luas lagi, termasuk potensi masa kanak-kanak yang harus dipelihara agar dapat dikembangkan di masa dewasa.
Membaca, dalam banyak hal sangat berbeda keterampilan anak berbicara. Berbicara adalah keterampilan alamiah, sedangkan membaca adalah keterampilan yang harus diajarkan.
Membaca bahkan bukan hanya keterampilan yang harus diajarkan, namun juga keterampilan yang harus menunggu kesiapan dan perkembangan otak. Sama seperti berjalan, anak tidak dapat belajar berjalan sampai otot-ototnya cukup berkembang.
Saat otot yang dibutuhkan untuk berjalan sudah siap, kita dapat mendukung seorang anak dan membantunya belajar berjalan. Anak tidak akan dapat berjalan jika tidak dilatih, hal yang sama berlaku untuk membaca. Kita dapat membantu seorang anak menghafal kata-kata, tetapi sampai otaknya cukup berkembang, dia tidak akan dapat membaca.
Seorang pembaca harus dapat mengingat apa yang dia baca di awal kalimat sebelum mencapai akhir kalimat, apa yang dia baca di awal paragraf sebelum mencapai akhir dan seterusnya. Dibutuhkan kemampuan untuk memahami makna kata, kalimat, paragraf, dan keseluruhan cerita. Itu membutuhkan pengembangan memori jangka pendek dan memori kerja yang memadai.
Sudah cukup jelas, bahwa membaca adalah keterampilan yang sulit untuk dikuasai ketika diajarkan secara formal, dan banyak anak mengalami kesulitan mencapai kefasihan pada tahap selanjutnya.

