Assalamu’alaikum, sobat! Selamat sore, selamat menikmati warna jingga, semoga selalu pada lindungan-Nya. Baiklah, sore ini sebenernya penulis ingin membuatkan perihal bisnis, akan tetapi entah mengapa, judul yg ada lagi-lagi menunjuk ke ranah psikologi pendidikan. Oke, hm..kali ini penulis akan balik membagikan pengalaman menjadi konselor sekolah yg semoga mampu berguna buat kita. Penulis akan suka , Jika pembaca ikut menyampaikan sumbangsih pikiran dan ikut nimbrung berdiskusi pertarungan ini pada kolom komentar, jangan sungkan ya!
Baiklah, sebagai sarjana psikologi yg merogoh concern psikologi pendidikan serta mulai bekerja pada sebuah institusi pendidikan, tentunya bercita-cita memaksimalkan potensi yg ada serta memanfaatkannya buat membantu konseli, namun banyak sekali pasal di dalam kode etik yang perlu ditaati guna mendapatkan akibat yang maksimal sehingga konseli jua mendapat penanganan yg maksimal . Keterbatasan primer yg aku rasakan sebagai sarjana psikologi yang bekerja di bidang ini ialah saya cukup meraba raba dalam tahu serta menyampaikan solusi atas pertarungan konseli, proses pengambilan data yang masih terbatas membentuk penulis putar otak supaya tetap bisa merogoh data lebih poly lagi buat diolah.
Sebenarnya menjadi BK merupakan sebuah tantangan, mengingat banyaknya konseli yang wajib kita layani sebagai akibatnya Secara tak eksklusif menuntut kami buat mengenal tiap individu konseli lebih jauh, padahal jam BK sendiri tak ada di beberapa semester, sebagai akibatnya menyebabkan perlu izin ke pengajar mata pelajaran. sebagai akibatnya penulis berpikir dan merenung, metode apa yang efektif buat mengenal peserta didik, secara mendalam menggunakan waktu yg singkat.

