
Ketidakhadiran hidup tanpa ibu di kehidupan anak akan memberi dampak yang berbeda-beda bergantung pada beberapa faktor. Salah satu faktor terbesar adalah peristiwa yang menyebabkan seorang anak kehilangan ibunya. Ada yang ditinggalkan karena kematian, ada yang pergi akibat perceraian, ada juga yang ditelantarkan meski masih tinggal dalam satu rumah atau berdekatan.
Selain itu, faktor lainnya seperti usia anak saat ditinggal ibu juga berpengaruh pada cara anak bereaksi terhadap rasa kehilangan. Meski demikian, hidup tanpa ibu tentu akan memberikan dampak yang besar pada keadaan emosional anak. Pada awalnya, mereka cenderung berkutat pada pikiran sendiri dan mempertanyakan alasan kepergian sang ibu.
Anak mungkin akan merasa kesepian, terlebih ketika mengingat bahwa mereka tidak mendapatkan perawatan dan kasih sayang yang dibutuhkan dari seorang ibu. Ketika tak mendapatkan jawabannya, tumbuhlah perasaan marah dan frustasi pada diri anak.
Hal tersebut membuat anak sering mengalami perubahan emosi yang mendadak. Perubahan inilah yang membuatnya akan sulit berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Anak yang tumbuh besar tanpa kasih sayang ibu juga cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sering terjadi pada anak-anak yang ditelantarkan oleh sosok ibu. Terbiasa diabaikan membuat anak kerap merasa tidak berharga.
Akibatnya, anak selalu merasa ragu dan tidak yakin akan kemampuan diri sendiri. Ketika mereka berhasil melakukan suatu pencapaian, alih-alih merasa senang mereka malah menganggap bahwa pencapaian tersebut bukanlah usaha dari diri sendiri, melainkan hanya sebuah keberuntungan.
Saat tumbuh dewasa nanti, anak mungkin akan mengalami kesulitan saat membangun hubungan dengan orang lain. Saat ibu sebagai orang terdekatnya bahkan tidak memberikan kasih sayang yang diinginkan, anak jadi tak mau berekspektasi untuk mendapatkannya dari orang lain.
Walaupun dampak di atas umumnya tidak dialami oleh anak-anak yang hidup tanpa ibu karena kematian, kehilangan sosok terdekat untuk selama-lamanya juga tentu akan meninggalkan luka batin pada anak.
Ketika anak terlalu lama berduka dan tidak menemukan jalan keluar untuk menghentikan kesedihan, anak jadi lebih rentan terhadap gejala depresi. Ia akan cenderung menarik diri dari lingkungannya serta mengalami penurunan dalam kinerja akademis daripada sebelumnya.

