Seni Memimpin Diri Sendiri

Ada sajak yang berkata sebelum memimpin orang lain pimpinlah diri sendiri secara profesional. Memimpin orang lain nyatanya tidaklah semudah teori, biasanya lebih sulit dilakukan.

Namun kenyataanya memimpin diri sendiri tanpa mengerti pondasi pemahaman diri tentang kepemimpinan dan memiliki pengalaman memimpin yang menjadi kesulitannya.

Andai kata jika kepemimpinan di ibaratkan adalah rumah, maka pilar pertama ini merupakan pondasi. Jika pondasinya tidak kuat, bangunan rumah satu lantai akan mudah roboh.

Apalagi bangunan didesain dua lantai, tiga lantai, dan empat lantai. Pastinya sangatlah berbahaya. Bagaimana bila pondasi tidak kuat menghadapi segala macam badai menghadang akan lebih kesulitan.

Makanya jika seseorang tidak memiliki kemampuan dalam hal “memimpin diri sendiri” saja dengan baik dan professional tidak mampu, maka untuk menduduki jabatan setingkat Foreman saja dapat dipastikan sangat berat dan sulit. Apalagi untuk posisi yang lebih tinggi, seperti SupervisorManager, hingga Direktur.

Wajar kalau seorang tidak mampu memimpin diri sendiri, maka yang terjadi hanya kegaduhan-kegaduhan, atau sibuk dengan aktivitas kontra produktif, sehingga target pribadi atau tim tidak tercapai.

Guru biasa-biasa saja memberitahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru unggul menunjukkan. Guru besar menginspirasi.” — William Arthur Ward, penulis

Berbicara mengenai kepemimpinan, menurut pakar kempemimpinan dunia yang bernama Dale Carnegie dalam bukunya The Leader in You mengatakan, bahwa ada jiwa kepemimpinan di dalam setiap diri manusia.

Hal ini juga diperkuat oleh pendapat seorang pakar dunia yang bernama Warren Bennis yang mengatakan bahwa: “Seorang pemimpin berbeda dengan orang kebanyakan” karena setiap orang memiliki kelebihan-kelebihan yang orang lain tidak memilikinya dan hal senada juga diungkapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengatakan, bahwa “Setiap kita sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah suri teladan (Uswatun Hasanah) dan kejujurannya (Siddiq)“.

Jangan pernah berfikir mampu memimpin orang lain, kalau memimpin diri sendiri saja belum mampu !!!” — Slamet Ardyanto, penulis, pakar leadership

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *